Pasar Komoditi Nasional

Strategi Menghadapi Membanjirnya Sayur/Buah Import

kata kunci: sayur

Setelah ”geger” tentang masuknya kentang import yang menyebabkan harga kentang lokal harganya jatuh, saat ini gantian Bawang merah import yang membikin pusing para petani. Setelah bawang merah apalagi? Begitu pertanyaan beberapa pihak tentang carut-marutnya pasar sayur/buah di Indonesia. 

Dari sudut pandang pasar, Indonesia adalah salah satu negera berkembang di dunia yang cukup ”sexy” sebagai sasaran pemasaran produk apapun termasuk sayur buah. Penduduk yang jumlahnya terus bergerak naik dari jumlah 240 jutaan jiwa pada tahun ini, merupakan potensi pasar yang besar. Faktor kedua adalah tingkat pendapatan rata-rata $3004.9 US, menjadi pendorong meningkatnya daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang berjaminan mutu. Gaya hidup masyarakat konsumen dengan pendapatan lebih dari $3000 US secara sosiologis memang mengarah pada produk-produk bermutu, namun mereka tetap mempertimbangkan biaya hidup yang efisien. Dengan begitu para konsumen akan tetap memilih barang-barang dengan harga yang lebih ”murah”. Hebatnya lagi, gaya hidup masyarakat ”yang baru mulai kaya” itu akan sangat emosional meniru gaya hidup yang masyarakat maju, agar mereka dipandang atau diakui sebagai kelompok strata sosial yang modern. Hal itu tidak salah, memang begitulah perilaku manusia yang berfikir.
Bagi pengusaha yang cerdas, perubahan gaya hidup masyarakat yang pendapatannya berada pada posisi transisi (dari strata miskin kearah strata kaya) itu digunakan sebagai pertimbangan memproduksi, mengemas, mempromosikan hingga memasarkan produknya.

Sebuah pengalaman.
Ada contoh sederhana yang menarik. Titik Sri Wulandari, seorang ibu dari sebuah kota kecil Magelang memiliki kesukaan mengkonsumsi sayur kangkung. Bu Titik ini, termasuk salah satu masyarakat yang pendapatan di keluarganya lebih dari $3000 US atau sekitar Rp. 27 juta/kapita/tahun. Bertahun-tahun Titik membeli kebutuhan dapurnya, termasuk kangkung, dari pasar ”Gotong Royong, salah satu pasar tradisional di kotanya. Jenis kangkung yang biasa Titik beli adalah jenis lokal yang diproduksi dari lahan sepanjang Kali Gending yang airnya mengalir sepanjang tahun. Kali Gending merupakan salah satu sungai yang airnya selain dimanfaatkan untuk irigasi juga untuk keperluan MCK bagi masyarakat sekitarnya. Tanaman kangkung di sepanjang tepian Kali Gending itu tumbuh dengan suburnya, walau tidak pernah dipupuk secara khusus. Batangnya besar-besar, tetapi panjang ruas antara daunnya juga panjang. Titik selalu mengolah kangkung yang diikat dengan ”gedebog pisang” itu dengan cara memotong dan membelah batangnya. Suatu ketika, dalam proses pembersihan dan pemotongan kangkung air itu Titik menemukan ”kotoran” yang tersangkut dialiran kali Gending itu, sehingga hatinya merasa jijik, sehingga seluruh sayuran kangkung yang barusan dibeli dibuang ke tempat sampah. Walau mengalami peritiwa yang menjijikkan itu, tetapi kesukaan Titik terhadap sayur kangkung tidak surut. Hingga tiba suatu ketika pergi belanja gula, sabun, pasta gigi dan lainnya di sebuah super-market di kotanya, Titik berbelok ke blok etalase sayuran yang dulu jarang dikunjunginya. Dulu Titik berfikir, sayur di super market itu tentu mahal. Tetapi demi memenuhi kesukaannya, apalagi kalau dipikir-pikir juga mampu membelinya, Titik akhirnya mencoba membeli kangkung disuper-market itu beberapa ikat. Kangkung di super-market itu adalah kangkung darat yang dipanen beserta akarnya, yang dicuci bersih hingga akarnya nampak putih, lalu diikat dengan pita merah bertuliskan produsen dan alamatnya. Batang kangkungnya tidak seberapa besar, nampak kekar dengan ruas antar daunnya yang pendek. Daunnyapun hijau segar, tidak ada daun tuanya, tanpa cacat dan tentu bersih. Setelah dimasak dirumah, Titik merasakan sensasi tersendiri dalam mengkonsumsinya. Setelah ditumis, warna daunnya tetap hijau, rasanya lebih enak, lebih kres & renyah. Tidak mudah ”lonyot” setelah dimasak, seperti kangkung produksi Kali Gending yang barusan ditinggalkannya. Mulai saat itu, hati Titik mulai berpindah kesukaannya ke kangkung darat. Namun hati kecilnya masih ingin membeli dengan harga yang lebih murah dibanding yang kemarin dibayarkannya di super-market. Mungkin karena pendapatan Titik masih berada pada posisi ”transisi” itu. Tetapi Titik sampai sekarang juga masih sering belanja sayuran ke pasar Gotong Royong di kotanya, tetapi tidak lagi membeli kangkung.
Kisah Titik dengan belanja sayur agaknya tidak berhenti sampai disitu. Awal tahun ini Titik sempat dibuat was-was dengan kabar di televisi yang menggambarkan bahwa ekonomi akan susah. Bagi ibu-ibu rumah tangga seperti Titik, susah itu artinya harga barang-barang menjadi mahal. Hal itu memang terasa, paling tidak untuk belanja berasnya. Harga beras yang pertengahan tahun 2011 lalu masih sekitar Rp6.000,-/kg untuk kelas medium atau jenis IR64, menjelang akhir Januari ini harga beras yang sama telah melambung hingga lebih dari Rp 8.000,-/kg di pasar. Tetapi harga yang naik itu tidak pada sayuran Bawang Merah, Kentang dan Wortel. Hingga kwartal pertama 2011 lalu, harga bawang merah di pasar sekitar Rp9.000,-/kg, Kentang Rp7.500,- dan wortel eks Tawang Mangu sekitar Rp 4.500,-/kg. Namun sejak beberapa bulan lalu harga ketiga produk sayur itu justru menurun tajam. Harga bawang merah turun manjadi Rp 5.000,- ; kentang Rp 6.000,- dan wortel Tawang Mangu hanya Rp 3.000,-/kg. Selain murah, Titik dan ibu-ibu lain agak kaget dengan jenis bawang merah yang ditemukannya di pasar. Bawangnya lebih bersih, kering dan seragam. Kentangnya dikemas bagus, seragam dan bersih. Titik yang sudah semakin cerdas dalam memilih, mencoba membeli bawang merah yang bersih itu. Ternyata harganya murah, hanya sekitar Rp 5.000,-/kg. Jauh lebih murah dibanding harga beberapa bulan lalu. Ada kabar, bawang merah yang baik tetapi murah itu adalah produk import dari India. Kentangnya dari Bangladesh dan India. Sementara itu, selama ini Titik hanya melihat wortel tanpa serat eks import digerai super-market. Tetapi sekarang sudah banyak dijual juga di pasar tradisional. Harganya hanya sedikit lebih tinggi dari wortel Tawangmangu, tetapi mutunya jauh lebih baik. Hati Titik dan ibu-ibu rumah tangga lainpun tergoda dan berbelok untuk belanja sayur yang mutunya lebih baik itu. Lalu bagaimanakah nasib bawang merah Brebes/Kendal/Ngawi, kentang Dieng, atau wortel Tawangmangu? Sudah dapat dibayangkan. Mereka agaknya tersingkir, seperti pemain sepak bola lokal yang kalah bersaing dengan pemain asing yang dibeli atau di”naturalisasi”, masuk klub-klub sepakbola Indonesia yang ribut terus itu. Tetapi dibalik itu, Muhadi, Koco dkk dari Demak; Wawan, Tukemi dkk dari Kendal; Dismo, Ngadiman dkk dari Brebes dan jutaan petani bawang merah, kentang & wortel pada klimpungan karena rugi besar. Nasib Muhson, Suzikin dkk dari lereng Sumbing lebih susah lagi, karena selain harga murah, produk kentang yang ”dibawa” pedagang lokal sebagian tidak dibayar, alias dikemplang. Katanya di pasar mengalami rugi besar.

Agresifnya pesaing. 

Dari pengalaman itu, dapat dibayangkan, bagaimana perilaku ibu-ibu rumah tangga dikota yang lebih besar, yang pendapatannya lebih besar, lingkungan konsumennya lebih cepat menyesuaikan dengan trend baru. Tentu produk sayur/buah lain yang penampilannya seperti kangkung air produksi Kali Gending ditempat Titik bermukim, akan semakin ditinggalkan konsumen. Masalah harga, para pelaku pasar yang cerdas pun semakin kreatif dan agresif dalam bersaing dengan ”pasar tradisional” yang selama ini terkesan lebih murah itu. Dalam melakukan persaingan harga, para pelaku pasar produk import yang murah itu begitu agresif. Memasukkan pasar barangnya saat sayur/buah sejenis harganya mahal dan melakukan promosi melalui pasar modern.
Tidak semua produk import itu mutunya lebih baik dibanding produk lokal. Para pedagang pengecer dan konsumen mengakui kalau kentang dari Dieng mutunya lebih baik dibanding kentang import. Namun karena harganya lebih murah, konsumen pun memilih kentang import. Sementara itu secara mutu wortel import memang jauh lebih baik dibanding wortel Tawangmangu atau dari Guci – lereng G. Slamet yang kecil, kotor & berserat. Walau rasanya kurang pedas, tetapi Bawang merah dari India lebih seragam dan lebih kering dibanding bawang lokal.

Petani harus bersaing.
Sejak memasuki tahun 2000 lalu, sebenarnya para petani sudah diberitahu kalau situasi perdagangan dunia telah berubah. Termasuk perdagangan sayur/buah dan barang konsumsi rumah tangga lainnya. Tetapi para petani yang terlalu lama diproteksi masih belum percaya. Mereka pikir hanya kampungnya yang mampu menghasilkan bawang merah, kentang atau wortel. Ditambah dengan adanya pupuk, pestisida kimia yang bersifat ”instan” dalam perlakukan budidaya, menjadikan petani berlomba-lomba menaikkan produksi dengan tidak memperhatikan lagi batasan-batasan yang ada dalam Standard Operasional Prosedur (SOP). Batasan yang lalu dilupakan adalah dosis pupuk, pestisida yang cenderung ”over dossage” (over dosis) yang menyebabkan pemborosan dan harga pokok menjadi tinggi. Dampak lain perilaku ”over dosis” itu adalah pencemaran lingkungan yang menyebabkan produktifitas lahan menurun. Ujung-ujungnya, hingga kini biaya produksi dari komoditas bawang merah sudah mencapai Rp 45 juta/ha. Dengan produksi hanya 10 ton/ha, maka harga pokoknya sudah Rp 4.500,-/kg dipetani. Itu akan sangat sulit bersaing dengan bawang import dari Thailand, Vietnam apalagi dengan India. Untuk komoditas kentang, biaya produksi, petani sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp 54 juta/ha. Dengan produksi hanya sekitar 15 ton, maka harga pokoknya sudah mencapai Rp 3.600,-/kg dipetani. Yang masih murah biaya produksinya mungkin wortel, tetapi mutu wortel kita benar-benar kalah jauh, sehingga konsumen secara pelan dan pasti pindah kewortel import yang tanpa serat itu.
Untuk menghadapi gempuran produk import itu, petani dan usaha pertanian Indonesia memang harus benar-benar berubah. Kalau tidak, maka ”kehancurannya” kita tinggal menunggu waktu saja. Sekarang, dengan penduduk yang semakin membesar yang mestinya adalah potensi pasar yang luar biasa, peluang pasar itu direbut oleh pengusaha pertanian negara lain. Sekarang komoditas-komoditas strategis seperti beras, sayur, buah, gula, daging, telur, susu, secara pelan tapi pasti pasarnya dimasuki komoditas import. Komoditas Jeruk, klengkeng, apel, anggur, bawang putih yang sekarang sudah didominasi produk import sudah tak ada perlawanan lagi. Bahkan kita telah lupa apakah kita perlu melawan dengan produksi dalam negeri atau tidak. Kalau sikap itu nantinya juga terjadi pada bawang merah, kentang dan wortel, maka ”habislah” usaha pertanian kita.

Konsep perubahan.
Perubahan itu menyangkut banyak hal dan tidak dapat dilakukan hanya oleh petani sendiri, pemerintah sendiri atau pedagang hasil pertanian sendiri. Dengan bertolah pada kebutuhan dan keinginan konsumen, maka perubahan diusaha pertanian, khususnya sayur/buah kita diantaranya adalah :

1). Pertama, perubahan pada pola usaha pertaniannya. Petani kecil, dengan pemilikan usaha kurang dari 2 ha tidak akan mampu menghadapi pasar model sekarang kalau tidak bersatu membentuk kelompok usaha. Kelompok usaha itu sebaiknya meliputi luasan tertentu yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Misalnya, untuk memenuhi pasar bawang merah sehari satu truk, atau 6 ton/hari, maka luas lahan produksi yang harus digabungkan minimal seluas 42 ha. Pola usaha yang menggabungkan luasan lahan ini dulu disebut ”corporate farming”. Untuk komoditas kentang, yang produktifitasnya 15 ton/ha, kalau permintaannya 2 truk atau 12 ton/hari maka luasan yang harus bergabung minimal 88 ha. Untuk memperoleh produk yang mutunya baik, proses produksi dikontrol dengan Standard Operasional Prosedur (SOP) yang teruji. Selain mutu terjamin, harganyapun dapat menjadi murah, karena proses produksinya dapat dibuat efisien. Kebun yang dikontrol waktu panennya, jamin kontinyuitasnyapun lebih baik sesuai dengan kapasitas pasar.

2). Setelah lahan usahanya digabungkan, para petaninya harus digabungkan juga dan dibentuk sebuah organisasi usaha bersama (kooperatif). Karena menyangkut urusan usaha, mulai dari budidaya, pengolahan hasil hingga pemasaran, maka diperlukan susunan organisasi yang berisi pembagian tugas. Dalam organisasi ini para petani diajak merubah pola pikirnya, dari ”petani penanam” berubah menjadi ”petani pemasok” pasar. Dalam organisasi ini, semua pekerjaan yang berkait dengan usahatani, mulai dari kebutuhan bibit, pupuk, obat-obatan, hingga kebutuhan biaya kemasan dan pengirimannya kepasar dihitung dan dikelola oleh pengurus organisasi. Bahkan, kebutuhan konsumsi petani/keluarga tani lainnya, mulai beras, sabun hingga pakaian, dapat menjadi urusan organisasi. Ini artinya ada cabang usaha baru yang tumbuh, setelah para petani bergabung dalam sebuah organisasi.

3). Organisasi petani pemasok menjalin kemitraan dengan pasar. Pasar yang baik adalah yang memiliki manajemen yang menjalin kemitraan dengan petani pemasok. Didalam kemitraan itu, petani menjaga untuk mampu memasok kebutuhan pasar dengan produk yang baik.

4). Penataan manajemen pelaku pasar. Sekarang ini kebanykan pasar, termasuk pasar induk sayur/buah, adalah hanya merupakan tempat untuk berkumpulnya para pedagang. Proses perdagangannya sendiri berjalan individual. Untuk memperoleh barang, masing-masing pedagang berusaha menjaring pemasok daerah dengan segala cara. Tidak sedikit yang melakukan ”akal-akalan” terhadap pemasok daerah hingga merugikan pemasok.
Banyak pedagang yang melakukan kegiatannya ”tanpa modal”, tetapi mengeruk laba paling besar. Sementara pemasok yang notabene petani, telah mengeluarkan modal mulai dari menanam – panen hingga membawa produknya kepasar induk. Pedagang pasar induk sering hanya menerima, menjualkan, lalu setelah laku barang dari petani baru dibayar. Berapapun harga jualnya, pedagang itu selalu mengambil untung. Sementara petani yang bermodal, selalu dipaksa menerima keadaan. Termasuk keadaan harga jatuh sekalipun.
Pola pelaksanaan perdagangan di pasar induk itulah yang mesti diubah. Namun, kegiatan yang sudah berjalan lama dan mendarah-daging itu amat sulit diubah.
Untuk merubah itu, perlu dimulai dengan membuka pasar induk baru dengan tata kelola yang baru. Walau tentu menerima hambatan dan gangguan dari pelaku pasar induk pola lama, manajeman pasar induk yang lebih arif dan adil harus terus dipraktekkan.
Intinya, manajemen pasar induk menjamin bahwa produk yang dikirim petani aman dan pembayarannya cepat & lancar dengan harga yang menguntungkan petani dan pelaku pasar. Karena pasar itu ada selalu ada di setiap konsentrasi konsumen atau kota, yang lalu lazim disebut dengan pasar induk, maka sebaiknya ada hubungan manajemen yang baik antar pasar induk diberbagai kota itu. Dengan begitu, distribusi barang antar kota akan terkendali secara berkeseimbangan. Dengan adanya keseimbangan pasokan antar daerah, diharapkan tidak lagi terjadi fluktuasi harga yang ekstrim.

5). Pelayanan cepat, profesional dan nyaman dari pemerintah. Tidak ada negara yang maju perdagangan (sayur/buahnya) tanpa campur tangan pemerintah. Regulasi harus mempercepat dan mengefisienkan proses produksi dan perdagangan. Fasilitasi harus diberikan kepada pihak-pihak yang melakukan usaha produksi sampai pemasaran hasil pertanian, sehingga dapat berjalan dengan baik dan benar. Pengendalian produk import dan dorongan produk pertanian masuk pasar eksport merupakan kewajiban pemerintah, sehingga masyarakat pelaku usaha dan konsumen nyaman.

Saat ini, situasi produksi hingga pemasaran hasil pertanian Indonesia dalam kondisi ”kacau-balau”. Korban jatuh bergantian saja, suatu saat petani yang jatuh dan saat yang lain konsumen yang menjadi korban.


Inilah contoh kebun sayur bayam dengan pola "corporate farming" di kebun
Koh Fah Technology Farm PTE LTD yang saya kunjungi beberapa waktu lalu di
Singapura Barat.


Kegiatan pengemasan sayur di Rumah Kemasan (Packing house) milik Koh Fah
TF PTE LTD. Singapura.


Kontributor : Soekam Parwadi, Januari 2012.

 

 

kembali «

print
  • Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan - Revitalisasi pertanian & Perbaikan Jaringan Pemasaran Produk Pertanian
    Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan
    BACA SELANJUTNYA
  • Kobis, Porang dan Industry Kreatif
    PASKOMNAS - Kobis. Awal Juni lalu, Kobis dari China masuk pasar induk di Jakarta dan Tangerang menyusul “temannya” si Bawang Putih, wortel, Jeruk Pongkam, Apel, Peer dan lainnya yang sudah mapan dipasar Indonesia. Seperti komoditi pendahulunya, kobis krop China masuk dengan penampilan cantik dan harga yang lebih murah dari Kobis krop Pengalengan, Dieng, Bromo atau Brastagi. Tentu saja dalam waktu sekejab kobis import itu habis dan pembeli grosir berharap kobis yang dibungkus tissue itu datang lagi, sokor tiap hari, karena kobis merupakan makanan harian masyarakat. Benar, kobis memang salah satu jenis sayur banyak dikonsumsi rakyat hingga selebriti sehari-hari.Cepat habisnya kobis China dipasar itu penyebabnya jelas, yaitu karena mutu barangnya lebih baik dari kobis domestik dan harganya lebih murah. Waktu itu harga jual kobis Pengalengan dan Dieng dipasar induk Tanahtinggi – Tangerang Rp2.200,-, kobis Medan Rp3.000,- dan kobis China hanya dijual Rp1.800,-/kg. Ada dua hal yang menarik dari masuknya kobis China ke Indonesia itu.Pertama, Semua orang terkagum dengan harga kobis China itu sambil bertanya-tanya antar teman ngobrol dipasar.Perjalanan kobis dari China ke Jakarta memakan waktu hampir enam hari, tentu biayanya lebih mahal dibanding dari Medan ke Jakarta.Setelah dikurangi ongkos angkut, biaya kemasan, laba pedagang, bea masuk Indonesia dan laba petani, berapa harga pokok kobis itu dari petani di China sana. Kedua, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masuknya kobis murah tersebut kenegara kita. Tidah ada yang mampu menjawabnya.Semua menerawang dengan bayangannya sendiri, termasuk para pemasok kobis dari Dieng dan Medan yang mebayangkan, sampai kapan mereka masih dapat memasok kobis kepasar induk kalau barang import murah itu masuk terus.Sementara saya berfikir, inilah awal dari “habisnya usaha agribisnis Nusantara”.Nanti orang Dieng, Pengalengan dan lainnya dinegri kita tetap menanam kobis, tetapi hanya untuk dimakan sendiri – pertanian subsisten.Perlu diketahui, produksi Kobis nasional kita saat ini 1,487 juta ton/tahun dan kebutuhan konsumen 1,368 juta ton/tahun. Kita surplus, tetapi ada import, kasusnya sama dengan Bawang Merah dan Cabe atau Kentang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pasar Sebagai “Panglima”
    PASKOMNAS - Beberapa hari terakhir ini, kami selaku pengampu Direktorat Pengembangan Agribisnis – Paskomnas Indonesia, sering ditugaskan untuk memenuhi undangan beberapa kementerian dan beberapa daerah provinsi atau kabupaten. Paling sering adalah Kementerian Pertanian. Namun belakangan yang cukup “agresif” adalah Kementerian Dalam Negri – khususnya Dirjen PMD dan Kementerian Pembangunan Daerah Tetinggal (KPDT) dari Deputi Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha. Kementerian Perdagangan kadang mengundang kalau ada harga bahan pangan yang ekstrim tinggi. Kalau harga ekstrim rendah yang merugikan petani jarang mengundang, bahkan teleponpun tidak. Kementerian Koperasi - melalui Dinas-dinasnya diprovinsi - juga sering mengundang Paskomnas untuk diajak mengaktifkan KUD dan Koperasi pertanian yang sudah lama mati-suri. Dalam pertemuan tingkat nasional yang biasanya dihadiri dari perwakilan daerah dikementerian masing-masing itu, Paskomnas diminta berperan dalam “mengobati masalah” – yang biasanya sudah stadia parah – yaitu tentang pemasaran hasil pertanian. Jenis masalah yang paling banyak adalah “harga jatuh” dan petani kesulitan memasarkan hasilnya. Dari beberapa kali pertemuan itu, agaknya para pengundang dan peserta pertemuan berharap Paskomnas dapat mengobati segera “penyakit akut harga jatuh” yang sudah sering kambuh itu. Kecuali dari Kemendag, yang biasanya mengundang atau menghubungi kami saat terjadi “harga ekstrim tinggi”. Kemendag ingin Paskomnas dapat dengan segera ikut berperan mengatasi harga ekstrim tinggi itu, sehingga konsumen segera senang kembali. Pokoknya semua kepengin dua penyakit kambuhan pemasaran hasil pertanian di Indonesia itu segera dapat diobati sehingga petani senang, konsumen senang dan para pejabat publikpun senang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pokok-pokok pikiran -- Revitalisasi pertanian dan pembangunan system distribusi produk pertanian menuju Kedaulatan Pangan dalam 5 tahun kedepan
    Pokok-pokok pikiran
    BACA SELANJUTNYA

 

Berita Terkait

Lihat Berita Sebelumnya «

Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 493985 kali | webmail | Disclaimer | Peta Situs
Perubahan terakhir pada: 15 Desember 2014
powered by Red Colibri