Pasar Komoditi Nasional

Stabilisasi “harga” pangan

kata kunci: Stabilitas , harga , pangan , kedelai , sayur , pasar

PASKOMNAS - Senin 25 Pebruari lalu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan sibuk rapat di kantor Menko Perekonomian untuk membahas “stabilisasi harga” pangan, khususnya kedelai dan daging. Rapat itu diadakan agaknya karena terjadi lonjakan harga “tak wajar” dipasar. Dari dua komoditi itu, sebenarnya yang dapat disebut tidak wajar adalah harga daging, karena harga tinggi hingga mencapai Rp100.000,-/kg itu hanya terjadi dipasar eceran. Sementara ditingkat petani masih wajar, karena harga perkilogram daging dipeternak masih sekitar Rp45.000,-/kg. Tidak wajarnya harga daging berarti terjadi setelah sapi masuk kerumah penyembelihan hingga kepasar. Itu yang berperan adalah para pedagang besar daging.

Sementara “tidak wajarnya” harga kedelai saat ini sebenarnya wajar-wajar saja, karena memang pasokan kepasar berkurang sehingga harga menjadi naik. Pasokan kepasar kurang karena disebabkan oleh dua hal. Pertama karena rendahnya produksi nasional saat ini yang hanya sekitar 800 ribu ton/tahun. Kedua karena berkurangnya kedelai import yang masuk kepasar Indonesia. Sebelum harga kedelai menjadi lebih dari Rp7.500,-/kg seperti sekarang ini, pemerintah mengijinkan import untuk menutupi kebutuhan nasional untuk kedelai masyarakat konsumen tempe-tahu yang sebesar 2,5 juta ton lebih pertahun itu. Import berkurang, karena memang di Amerika Serikat sana, yang menjadi sumber kedelai import selama ini, mengalami gagal panen dan pembatasan eksport.
Untuk kasus naiknya atau mahalnya komoditi kedelai dan daging tersebut, agaknya – kalau mau – mestinya sudah ada jawabnya. Untuk mengatasi “mahalnya” harga daging, sekaligus untuk meningkatkan pendapatan petani peternak, sebaiknya pemasok daging kepasar adalah petani langsung. Selama ini petani peternak banyak “kerja-bakti”nya. Untuk menggemukkan sapi dari “bakalan” hingga siap jual butuh waktu sedikitnya 24 bulan!!. Sementara para pedagang besar yang hanya butuh waktu 24 jam untuk proses beli – sembelih – jual, labanya sangat besar. Untuk menjadikan petani peternak sebagai pemasok daging, memang perlu sebuah “manajemen” ditingkat petani produsen, plus perangkat khusus. Manajemen diperlukan karena petani kurang mampu dalam hal itu. Selain itu, manajemen diperlukan untuk mengatur rumah penyembelihan, pasokan secara kontinyu, mengatur tenaga ahli khusus yang memahami soal mutu daging, mengatur distribusi, mengatur mitra penerima daging di pasar induk, mengatur administrasi keuangan dan pembagian uang penjualan. Bahkan juga mengatur pinjaman seandainya petani peternak butuh kredit modal. Untuk itu, berarti diperlukan gabungan petani peternak dari suatu sentra produksi, dibentuk organisasi formalnya.

Selain manajemen, diperlukan perangkat khusus berupa rumah penyembelihan dan alat angkut daging ditingkat petani. Di lereng Merbabu – Kabupaten Magelang, ada Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Didaerah itu, selain berusahatani sayuran, para petani juga sebagai peternak sapi potong yang selama ini menjual sapi. Kalau di-BUMP itu ada rumah potong Hewan (RPH) sangatlah baik. Bukan hanya di Magelang, mestinya RPH itu dapat dibangun disentra produksi sapi potong di Temanggung, Wonosobo, Baturaden, Boyolali, Magetan, Lumajang, Nongkojajar- Pasuruhan, Buleleng – Bali, atau di Tasikmalaya dan sentra-sentra lainnya.

Bagaimana untuk kedelai?. Untuk kedelai ini sebenarnya lebih mudah, tetapi menjadi sulit karena ada perbedaan persepsi antara petani dengan perajin tahu-tempe/konsumen. Perajin tahu tempe mintanya harga dibawah Rp6.000,-/kg. Padahal kalau harga itu, petani rugi besar atau usahatani kedelai menjadi tak menarik. Saat ini jenis Kedelai Indonesia adanya berbiji kecil, daya produksinya paling 1,5 ton/ha, harga jualnya paling Rp5.000,-/kg. Dengan biaya Rp6juta/ha, petani selama empat bulan hanya memperoleh laba sekitar Rp 1.500.000,-/ha. Petani mana yang mau mengusahakan kedelai. Dilain pihak, maunya perajin tempe-tahu biji kedelai yang besar dan dengan harga dibawah Rp6.000,- sudah ditangan mereka. Padahal dari petani, kedelai selama ini masuk kepedagang dulu sehingga harga sampai perajin tempe tahu Rp6.000,-/kg itu.

Untuk mempertemukan kemauan petani dan perajin tahun-tempe, petani minta ada benih unggul kedelai yang berbiji besar, sebesar kedelai import, yang produktifitasnya lebih dari 3,5 ton/ha. Lalu harga jualnya tidak lagi Rp5.000,- ditingkat petani, tetapi diatas Rp6.000,- ditingkat petani. Dengan begitu, harga sampai perajin tahu-tempe bisa sekitar Rp6.500 sampai 7.000,-/kg. Kepada perajin tahu-tempe - dan juga kepada konsumen – diminta harap maklum kalau harga kedelai petani memang harus naik sekarang ini. Petani itu nunggunya panen empat bulan, kepanasan, kehujanan. Jadi mari kita berbagi dengan petani. Kalau ada subsidi, sebaiknya bukan kepada konsumen, tetapi diberikan saja kepada petani kedelai. Bentuknya bisa benih unggul yang berbiji besar plus insektisida untuk pengendalian hama lalat kacang (Agromiza p) atau ulat polong (Etiella zinkenella). Karena petani itu selain menyediakan produk kedelai, mereka juga sedang menyuburkan lahan pertanian kita agar subur alami lagi dengan tanaman kedelai itu.

Hikmah dari melonjaknya harga daging dan kedelai itu sebenarnya adalah sebuah pelajaran bagi semua. Yang mungkin perlu dilakukan oleh pemangku kebijakan adalah, sebaiknya rapat koordinasi ini bukan hanya untuk mengatasi masalah harga naik, lalu diredam dengan subsidi harga. Itu namanya seperti “pemadam kebakaran” saja. Kalau Negara dalam mengurus pangan seperti itu, agaknya akan kecipuhan. Karena nanti setelah daging dan kedelai teratasi, namun teratasi secara semu disebabkan oleh “semprotan” subsidi, lalu muncul masalah kenaikan harga komoditi baru, seperti cabe, tomat, kentang, susu atau garam, maka akan banyak rapat “pemadam kebakaran” terus.

Padahal untuk “memadamkan fluktuasi harga” sayur yang sifatnya “perishable” itu akan lebih rumit lagi. Mungkin akan lebih baik lagi kalau Indonesia ini punya program produksi dan pasokan pasar untuk masing-masing kooditi pangan. Dasarnya mesti kebutuhan pasar, lalu diprogram menanamnya dimana, kapan, pasoknya kemana, yang mengelola pasokan siapa, yang mengelola penerimaan produk disetiap pasar induk kota-kota besar itu siapa. Perlu sebuah “grand desain” nasional. Grand desain itu perlu dipecah-pecah menjadi “desain produksi-pasokan” komoditi tertentu yang harus dijalankan secara kontinyu sampai tercapai satu-persatu stabilitas pasokan dan harga komoditi itu. Dengan catatan “tidak ada import”.

Pasar komoditi (pangan) nasional (paskomnas), sekarang mulai tumbuh di Palembang, Tangerang, Surabaya, sebentar lagi Semarang, Kediri dan Serang. Sudah dirancang pula untuk dibangun disetiap provinsi di Indonesia. Pasar yang menjamin aman dan diselenggarakan secara transparan itu, sekarang tinggal menunggu mitra pemasok seperti BUMP-BUMP dengan komoditi spesifiknya. Manajemen pasar komoditi nasional itu dapat menjamin harga stabil kalau ada pengendalian besarnya pasokan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Harga yang stabil, akan nyaman bagi petani, pedagang dan konsumen.

Penduduk kita yang sudah 250 juta lebih dan akan terus tumbuh ini butuh jaminan ketersediaan pangan yang cukup dengan harga stabil. Kalau tidak, kalau mereka sampai lapar dan kufur, bahaya. Tetapi petani juga butuh jaminan pendapatan yang baik, agar anak-anaknya tertarik untuk hidup dari pertanian meneruskan usaha bapaknya. Kalau tidak anak-anak petani itu akan menyerbu kota. Kalau tidak dapat pekerjaan mereka dapat menjadi pengamen. Mudah-mudahan tidak menjadi perampok.

Soekam Parwadi, Pebruari 2013.

kembali «

print
  • Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan - Revitalisasi pertanian & Perbaikan Jaringan Pemasaran Produk Pertanian
    Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan
    BACA SELANJUTNYA
  • Kobis, Porang dan Industry Kreatif
    PASKOMNAS - Kobis. Awal Juni lalu, Kobis dari China masuk pasar induk di Jakarta dan Tangerang menyusul “temannya” si Bawang Putih, wortel, Jeruk Pongkam, Apel, Peer dan lainnya yang sudah mapan dipasar Indonesia. Seperti komoditi pendahulunya, kobis krop China masuk dengan penampilan cantik dan harga yang lebih murah dari Kobis krop Pengalengan, Dieng, Bromo atau Brastagi. Tentu saja dalam waktu sekejab kobis import itu habis dan pembeli grosir berharap kobis yang dibungkus tissue itu datang lagi, sokor tiap hari, karena kobis merupakan makanan harian masyarakat. Benar, kobis memang salah satu jenis sayur banyak dikonsumsi rakyat hingga selebriti sehari-hari.Cepat habisnya kobis China dipasar itu penyebabnya jelas, yaitu karena mutu barangnya lebih baik dari kobis domestik dan harganya lebih murah. Waktu itu harga jual kobis Pengalengan dan Dieng dipasar induk Tanahtinggi – Tangerang Rp2.200,-, kobis Medan Rp3.000,- dan kobis China hanya dijual Rp1.800,-/kg. Ada dua hal yang menarik dari masuknya kobis China ke Indonesia itu.Pertama, Semua orang terkagum dengan harga kobis China itu sambil bertanya-tanya antar teman ngobrol dipasar.Perjalanan kobis dari China ke Jakarta memakan waktu hampir enam hari, tentu biayanya lebih mahal dibanding dari Medan ke Jakarta.Setelah dikurangi ongkos angkut, biaya kemasan, laba pedagang, bea masuk Indonesia dan laba petani, berapa harga pokok kobis itu dari petani di China sana. Kedua, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masuknya kobis murah tersebut kenegara kita. Tidah ada yang mampu menjawabnya.Semua menerawang dengan bayangannya sendiri, termasuk para pemasok kobis dari Dieng dan Medan yang mebayangkan, sampai kapan mereka masih dapat memasok kobis kepasar induk kalau barang import murah itu masuk terus.Sementara saya berfikir, inilah awal dari “habisnya usaha agribisnis Nusantara”.Nanti orang Dieng, Pengalengan dan lainnya dinegri kita tetap menanam kobis, tetapi hanya untuk dimakan sendiri – pertanian subsisten.Perlu diketahui, produksi Kobis nasional kita saat ini 1,487 juta ton/tahun dan kebutuhan konsumen 1,368 juta ton/tahun. Kita surplus, tetapi ada import, kasusnya sama dengan Bawang Merah dan Cabe atau Kentang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pasar Sebagai “Panglima”
    PASKOMNAS - Beberapa hari terakhir ini, kami selaku pengampu Direktorat Pengembangan Agribisnis – Paskomnas Indonesia, sering ditugaskan untuk memenuhi undangan beberapa kementerian dan beberapa daerah provinsi atau kabupaten. Paling sering adalah Kementerian Pertanian. Namun belakangan yang cukup “agresif” adalah Kementerian Dalam Negri – khususnya Dirjen PMD dan Kementerian Pembangunan Daerah Tetinggal (KPDT) dari Deputi Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha. Kementerian Perdagangan kadang mengundang kalau ada harga bahan pangan yang ekstrim tinggi. Kalau harga ekstrim rendah yang merugikan petani jarang mengundang, bahkan teleponpun tidak. Kementerian Koperasi - melalui Dinas-dinasnya diprovinsi - juga sering mengundang Paskomnas untuk diajak mengaktifkan KUD dan Koperasi pertanian yang sudah lama mati-suri. Dalam pertemuan tingkat nasional yang biasanya dihadiri dari perwakilan daerah dikementerian masing-masing itu, Paskomnas diminta berperan dalam “mengobati masalah” – yang biasanya sudah stadia parah – yaitu tentang pemasaran hasil pertanian. Jenis masalah yang paling banyak adalah “harga jatuh” dan petani kesulitan memasarkan hasilnya. Dari beberapa kali pertemuan itu, agaknya para pengundang dan peserta pertemuan berharap Paskomnas dapat mengobati segera “penyakit akut harga jatuh” yang sudah sering kambuh itu. Kecuali dari Kemendag, yang biasanya mengundang atau menghubungi kami saat terjadi “harga ekstrim tinggi”. Kemendag ingin Paskomnas dapat dengan segera ikut berperan mengatasi harga ekstrim tinggi itu, sehingga konsumen segera senang kembali. Pokoknya semua kepengin dua penyakit kambuhan pemasaran hasil pertanian di Indonesia itu segera dapat diobati sehingga petani senang, konsumen senang dan para pejabat publikpun senang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pokok-pokok pikiran -- Revitalisasi pertanian dan pembangunan system distribusi produk pertanian menuju Kedaulatan Pangan dalam 5 tahun kedepan
    Pokok-pokok pikiran
    BACA SELANJUTNYA

 

Berita Terkait

Lihat Berita Sebelumnya «

Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 494563 kali | webmail | Disclaimer | Peta Situs
Perubahan terakhir pada: 19 Desember 2014
powered by Red Colibri