Pasar Komoditi Nasional

Oleh-oleh dari Thailand

kata kunci: Pasar Bebas , komoditi

PASKOMNAS - Sebenarnya sudah basi, tetapi sahabat saya (Setyo Adhie dari Dirjen PPHP - Kementan) perlu membawa lagi oleh-oleh ini dari Thailand untuk para pejabat yang mengutus, petani Indonesia dan saya.

Ada lima macam oleh-oleh itu berupa sebuah kesimpulan yaitu, 1). Indonesia jauh ketinggalan dibidang penelitian buah-buahan ; 2). pendapatan petani buah (di Indonesia sangat rendah) dibanding petani Thailand ; 3). olahan buah di Thailand begitu maju dan di Indonesia sangat jauh ketinggalan ; 4). kebersihan pasar buah dan sayuran (di Thailand komoditinya sangat bersih dan di Indonesia kebalikannya) ; 5). biaya produksi sayuran (terutama cabe di Thailand) 1/3 lebih rendah dari petani kita.

Berdasarkan lima keadaan itu, Adhie menyimpulkan bahwa, “Jadi (petani) Indonesia akan sangat berat menghadapi perdagangan (bebas) ASEAN th 2015, ASEAN ECONOMIC COMMUNITY-2015. Kemudian mengakhirinya sebuah pertanyaan, “So what’s for the next future ??. Lalu apa yang dapat kita perbuat untuk waktu mendatang ??

Saya sebut “basi” hal tersebut, karena sudah lama kita ketahui lima hal itu, tetapi kita tak pernah cerdas melakukan usaha. Bahkan bukan hanya dari Thailand upaya cerdas dan sistematis membangun pertanian itu dilakukan oleh Negara-negara lain. Sebutlah Jepang yang lebih dulu terkenal dengan model korporasinya. Lalu yang lebih belakangan membangun pertanian dan memiliki “speed” tinggi untuk berada dalam konsep yang benar adalah Malaysia, India, Myanmar dan Vietnam. Malaysia, Vietnam dulu belajar ke Indonesia tentang pertanian, sekarang kebun buah, sayur, kedelainya jauh lebih baik dari Indonesia, dan banyak produknya dieksport termasuk ke Indonesia. Vietnam, Negara yang baru merdeka “kemarin sore” – setelah dihajar oleh Amerika Serikat dalam perang Vietnam yang berkepanjangan – sekarang telah sukses membangun kebun Kopi, meningkatkan produksi beras hingga mengeksportnya ke Indonesia. Para pemimpinnya cerdas, tegas, konsisten, baik dan masyarakatnya mau diatur.

Semua itu pelajaran yang sangat berharga, kalau Indonesia mau belajar dengan cerdas. Kata kuncinya adalah “pemimpin yang konsisten – penelitian – teknologi – efisiensi - pasar ”. Kalau lima hal ini dibenahi dengan baik dan sistematis, maka pendapatan petani buah dan petani komoditas apapun akan meningkat. Dampak lebih baik dari itu adalah terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berbasis pertanian secara mantap. Itu tidak salah karena dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia, produk pangan akan menjadi sangat dibutuhkan masyarakat.

Apakah kita harus pesimis ?
Kalimat pesimis Adhie : “Jadi (petani) Indonesia akan sangat berat menghadapi perdagangan (bebas) ASEAN th 2015”, bisa ada benarnya, kalau melihat peran pemangku kepentingan dibidang penelitian, pengembangan teknologi, perilaku inefisiensi biaya usahatani, proses pemasaran dan pengembangan pasar komoditi pertanian kita saat ini.
Pemangku kepentingan itu meliputi pemerintah, pengusaha, petani dan ilmuwan di Indonesia. Kita bahkan “pasti” akan sangat berat dalam menghadapi perdagangan bebas Asean dan kalah dalam persaingan perdagangan komoditi pertanian (pangan) mulai 2015 nanti. Tanda-tandanyapun mulai terlihat sejak beberapa tahun terkahir, yaitu adanya ketergantungan kebutuhan konsumsi kita terhadap produk import.

Kalau sempat “bermimpi” untuk kondisi 5 – 10 tahun mendatang, saat penduduk Indonesia berjumlah sekitar 275 – 300 juta jiwa, semuanya butuh makan, lalu pertanian kita masih seperti ini. Maka setelah bangun dari mimpi itu, tentu akan sulit untuk tidur lagi. Itu bagi orang-orang yang masih mau berfikir untuk bangsanya, bangsa Indonesia. Semua itu bukanlah “barang gaib” – kalau mau – “pasti” perlawanan terhadap produk import itu tentu masih dapat diupayakan.

Tetapi seperti yang dibayangkan Adhie, sampai 2015 itu waktunya begitu pendek. Kalau diibaratkan seperti balapan mobil formula-1, “lampu start” berwarna merah perdagangan bebas sudah menyala sejak sekarang – sebagai tanda persiapan. Begitu lampu merah lima biji itu dimatikan pada 2015, pengusaha yang sudah berada pada jalur “persaingan” akan memacu kendaraannya dengan cepat. Mereka bisa menyalip dengan elegant pesaingnya dijalur lurus. Tetapi bisa juga para pemain lihai dari Negara tetangga itu menyalip ditikungan, saat peserta lain (dari Indonesia) lengah dan kurang trampil dalam menjalankan kendaraan bisnisnya. Apalagi pemain Indonesia selalu dalam barisan belakang “pool position”, bahkan tidak pernah mengalami persaingan. Indonesia akan dengan mudah ditinggalkan “pembalap” agribisnis lain dan akan di”overlaping” dalam beberapa “lap” berikutnya. Bagi yang suka menonton balapan mobil F-1 yang penuh dengan strategi itu, tentu akan dengan mudah memahaminya.

Untuk mengurai empat kata kunci, penelitian – teknologi – efisiensi – pasar, dalam satu – dua tahun, memang cukup berat. Ada kondisi makro yang mesti dibangun, agar empat kata kunci itu dapat dirubah dengan cepat, secepat team Ferrari memperbaiki mobil balapnya sehingga Fernando Alonso dan Felipe Massa menjadi berubah besar dibalapan 2013 ini. Memang, memperbaiki mobil balap yang serba “speed”, berbeda dengan memperbaiki kondisi pertanian, terutama di Indonesia. Tetapi kalau perubahan itu lamban-lamban saja seperti sekarang, dengan pasti akan di”overlap” oleh pesaing-pesaing kita. Padahal para pesaing itu dulu belajar agribisnis di Indonesia.

Dari mana merubahnya ?.
Kondisi makronya, agaknya Indonesia ini seperti terlilit sebuah jaring dari benang yang kuat tetapi anyamannya “ruwet”. Mau di”udari” untuk dirajut kembali susah, tetapi jaring ini penggunaannya butuh biaya besar dan kinerja dan produktifitasnya rendah. Untuk membangun itu butuh konsentrasi dan biaya besar. Tetapi uang Indonesia ini banyak “terbuang” untuk biaya lain.
Akhirnya uang untuk penelitian, untuk pembangunan, untuk apapun yang produktif menjadi tinggal sisa-sisa yang sedikit.

Itulah “benang ruwetnya” dan “jaring ruwetnya”. Karena itulah makanya banyak yang “tejerat” dengan benang & jaring ruwet yang mereka buat sendiri. Semua – tak terkecuali. “Nau’dzubillah min dzaliq”

Agaknya pesimistisnya Adhie cukup beralasan, karena yang paling sulit di Indonesia bukan masalah penelitian dan teknis budidaya atau membangun pasarnya. Bukan pula karena kita miskin plasmanuftah buah-buahan tropis. Tetapi kesulitan luar biasa untuk membetulkan benang-benang dan jaring yang ruwet itu.
Ini sepertinya sengaja dilakukan oleh tangan-tangan asing yang tersembunyi agar uang Indonesia (yang sedikit) itu banyak terbuang tidak produktif. Setelah itu pembangunan Indonesia bidang pertanian menjadi gagal sehingga pengusaha asing itu dengan leluasa dan mudah menjual produk pangannya ke Indonesia.

Kondisi mikronya, para petani Indonesia umumnya berpendidikan rendah, pemilikan usahatani kecil, kelembagaannya lemah, aksesibilitas terhadap informasi, teknologi, kredit dan pasar lemah. Kondisi kawasan usahatani, khususnya kesuburan tanah, hama, cuaca yang berubah menjadi unsure yang menekan usahatani itu sendiri.

Kondisi mikro inilah yang saat ini seperti diabaikan oleh pemerintah sehingga kegiatan sahatani menjadi semakin sulit, khusunya bagi petani kecil. Kalau menilik yang terjadi dinegara tetangga, seperti di Thailand, Malaysia, Myanmar hingga India, kondisi mikro itu telah lama diatasi. Sekarang, menjelang tahun 2015, saat diberlakukannya perdagangan bebas Asean nanti mereka telah siap. Siap dengan produknya yang mampu bersaing dipasar bebas klas regional.

Sementara petani Indonesia yang dibesarkan pada situasi dan kondisi politik & Negara yang “semakin ruwet” ini, psikologi masyarakat tani yang dulu sebenarnya bisa tangguh dan mandiri, sekarang telah berubah menjadi “beringas”. Mereka sulit diorganisasi, dengan tetangga sudah saling merahasiakan ilmu, teknologi dan peluang. Mereka sudah terbawa kondisi yang serba menuntut bantuan. Mereka juga mulai pandai “menipu” pihak lain, termasuk pihak yang mestinya menjadi mitranya. Kondisi itulah yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan masa depan petani kita, diluar masalah teknis yang masih sangat memprihatinkan.

Tiga kunci besar.
1. Penelitian. Untuk menghasilkan teknologi dan efisiensi.

Penelitian pertanian (di Thailand dan dinegara maju lainnya, pertama, ditujukan untuk dengan cepat menemukan jenis unggul baru. Jenis unggul baru itu selalu diorientasikan kepasar dan diorientasikan kelahan budidaya yang akan ditanami. Kedua, penelitian ditujukan untuk menemukan rumusan teknologi yang hemat biaya (efisien) dan mampu mengadaptasi tanaman terhadap musim. Untuk ini, biaya penelitian – termasuk upah/gaji bagi penelitinya cukup besar. 

Kondisi khusus (di Thailand) Raja & istri Raja adalah seorang “hortikulturis” hebat yang banyak berbuat mulai dari penelitian hingga menanami turus jalan di”alun-alun” dengan komoditi Asam (Tamarindus sp) yang diorientasi eksport. Bukan banyak bicara. Tetapi yang penting lagi, pemangku kepentingan dipemerintahan tidak mempan “ditempel” oleh para pengimport komoditi pangan yang memiliki kepentingan bisnis import.
Contohnya, Gubernur Thailand Utara tahu, kalau pasar buah Eropa itu bagus dan besar. Pasar suka durian, namun penghambatnya adalah aromanya yang tidak memungkinkan bisa diangkut melalui pesawat udara. Lalu dengan cerdas Gubernur, yang didudukng Raja, meneliti dan menemukan dua varietas Durian baru tanpa aroma. Rasa, ketebalan daging, biji kecil tetap menjadi syarat mutunya. Karena orang Eropa suka buah yang mungil – satu buah satu orang – maka Durian tanpa aroma itu juga “dibuat” bobot perbuahnya rata-rata hanya sekitar 1 kg. Dengan hasil kinerjanya itu, gubernurnya – tanpa kampanyepun rakyat akan memilihnya, karena rakyat petani merasakan manfaatnya memiliki gubernur.

Itu Durian, ada puluhan jenis komoditi lain yang bermula dari imajinasi pemimpinnya yang berorientasi kepasar, lalu diteliti, diperluas, dijual kepasar domestic hingga ekspor. Perlu diketahui, bahwa semua komoditi itu diteliti dan dikembangkan berbekal pada plasmanuftah tropis, namun dikembangkan sebagai komoditi (mata dagangan) yang berorientasi internasional. Para peneliti mereka bisa saja dating ke Indonesia, melakukan jelajah plasma nuftah, lalu membeli yang potensial untuk menjadi bahan penelitian. Semua dibiayai pemerintah, dengan prosedur yang sangat sederhana.

Hasil penelitian tidak hanya terbatas pada penemuan komoditi, tetapi juga teknolgi yang berorientasi pada efisiensi biaya, sehingga BEP ditingkat petani rendah. Gubernur/bupati tahu kalau dipasar itu nanti produk petani akan bersaing. Untuk menang bersaing, barang harus bagus – harga herus lebih murah dari pesaing, tetapi petani harus untung.

Untuk meningkatkan pendapatan petani produsen, produk sayur buah yang dijual segar hanya 70% saja yang mutunya bagus. Yang 30%, yang mutunya kurang bagus, diolah ditingkat produsen menjadi produk olahan kemasan sehingga bernilai tambah. Cabe dibuat sambal, tomat dibuat saus, durian & buah lain dibuat kripik atau minuman. Jadi sambal, saus, kripik yang bahan bakunya dipetani tidak perlu diolah oleh pabrik raksasa. Kalau di Thailand penelitian untuk menemukan komoditi sudah dilakukan gubernur, untuk teknologi pengolahan hasil ini seperti ini menjadi tanggung jawab dan kewajiban pemerintah setingkat dibawah gubernur.
Semua teknologi ada, semua hasil penelitian mendalam berorientasi kepasar. Pasar menjadi “lokomotif” karena semua produk akan menjadi komoditi (mata dagangan).

2. Lembaga produsen

Hasil penelitian yang baik, sebaiknya tidak serta merta disebar bebas keseluruh kawasan pertanian. Produk adalah komoditi (mata dagangan) yang akan dijual kepasar. Hal paling sensitive dalam pemasaran komoditi yang dihasilkan petani adalah harga. Mulai dari Hadits Nabi sampai ilmu ekonomi modern menyatakan bahwa harga dibentuk oleh pasar (yang berisi penawaran dan permintaan). Naik-turunnya harga ditentukan oleh naik dan turun (besar)nya penawaran/pasokan dan permintaan konsumen. Besarnya permintaan konsumen/pasar pada dasarnya hampir sama setiap harinya. Artinya, agar harga “stabil” maka jumlah atau besarnya pasokan komoditi segar dari produsen kepasar tidak boleh kurang jauh dan tidak boleh berlebihan.

Untuk inilah, produsen harus dikelola oleh sebuah lembaga usaha yang mengatur jumlah produksi yang dikirim kepasar. Lembaga petani produsen ini perlu ada disetiap luasan 200 – 500 ha. Dalam satu Negara tentu akan banyak lembaga-lembaga produsen ini. Namun setiap lembaga produsen yang berada dalam kawasan agroekosistem yang berbeda tentu memiliki komoditi spesifik yang berbeda. Misalnya saja, komoditi Bawang merah, di Indonesia ini hanya ada empat daerah yang besar (>10.000 ha/tahun) dan delapan daerah yang luasannya sedang (2.500 – 10.000 ha/tahun). Cabe merah, kobis, kentang, jeruk, apel, pisang, atau apapun ada daerah pengembangannya yang potensial. Berbekal potensi daerah itu, mesti harus diatur pola panen dan produksinya untuk memenuhi permintaan/kebutuhan pasar daerah dan nasional. Negara mengatur untuk memilih (berdasar penelitian) komoditi yang dikembangkan disetiap wilayah.
Selain mengatur jumlah, lembaga produsen harus mengatur mutu dan strategi harga dalam rangka memperluas pasar serta memperbesar omzet penjualan. Tanpa lembaga dan manajemen produksi yang baik, Negara ini tidak akan dapat menstabilkan “harga”.

3. Pusat distribusi.

Dalam pengertian sehari-hari, pusat distribusi yang posisinya dikota-kota besar itu disebut “pasar induk”. Disebut induk, karena menjadi tempat bermuaranya para pemasok dan para pedagang grosir melakukan pemasaran komoditi. Kaidah transaksinya, dipasar induk itu tempat menjual dan membeli komoditi secara borongan, bukan eceran melayani konsumen rumah tangga.
Untuk mengatur distribusi komoditi kekonsumen, terutama konsumen kota besar yang serapannya terhadap komoditi pangan jumlahnya besar, perlu diatur adanya pasar induk itu. Berdasarkan kajian sederhana Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas), kota yang berpenduduk > 2 juta orang, perlu dibangun pasar induk dengan luasan 3 – 5 ha. Sedangkan kota yang jumlah penduduknya 1 – 2 juta orang bangunan pasar induknya cukup 2 ha. Sedangkan kota yang penduduknya kurang dari 1 juta orang, cukup dibangun pasar eceran yang suplaynya dapat langsung dari sentra produksi.
Dalam rangka pengendalian pasokan dipusat-pusat distribusi/pasar induk berjaringan nasional, perlu memiliki pusat informasi yang dapat diakses oleh semua jaringannya, termasuk jaringan pemasok langsung dari lembaga korporasi formal petani produsen. Dari pusat data informasi itulah, pasokan dapat dikendalikan jumlah, jenis dan kontinyuitasnya dimasing-masing pusat distribusi/pasar induk.
Kondisi itulah yang telah lama dilaksanakan dinegara tetangga seperti di Thailand, Taiwan, Korea, Malaysia. Jepang telah lebih dari tiga dasawarsa lalu melaksanakannya.

Mulai 2015, peran pusat distribusi/pasar induk itu sangat penting, terutama dalam menerima dan menyalurkan produk (pangan) itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat diwilayahnya. Bagi Negara maju, pusat distribusi telah memiliki peran ganda. Pertama untuk pengatuan distribusi nasionalnya. Kedua sebagai tempat untuk mengumpulkan produk dan mempersiapkannya untuk pasar internasioanl. Contoh yang paling nyata adalah seperti yang telah dilakukan oleh Singapura dengan Pasirpanjang Trade Centre-nya, yang selain untuk mencukupi kebutuhan dalam negri, lebih dari 60% dari produk yang masuk Pasirpanjang TC dikelola sebagai komoditi ekspor keberbagai Negara di Timur Tengah & Eropa. Demikian pula yang telah dilakukan oleh Thailand. Produk-produk horikultura dari Thailand yang sampai diluar negri (termasuk Indonesia), adalah produk yang dijaring melalui pusat distribusi.

Di Indonesia, system distribusi komoditi pangan berjaringan nasional itu telah dirintis oleh Pasar komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia. Paskomnas Indonesia memberikan informasi kebutuhan, mengatur pasokan antar pusat distribusi sehingga seimbang antara permintaan dan pasokan.

Soekam Parwadi,
Direktur Pengembangan Agribisnis, Paskomnas Indonesia

 

kembali «

print
Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 423742 kali | webmail | Disclaimer
Perubahan terakhir pada: 14 Juli 2014
powered by Red Colibri