Pasar Komoditi Nasional

Koperasi produksi koperasi yang sebenarnya.

kata kunci: koperasi

PASKOMNAS - Awalnya adalah koperasi “simpan-pinjam” seperti kebanyakan koperasi yang ada di Indonesia, termasuk Koperasi Hortikultura “Sri Lestari” yang ada di Kecamatan Pasirian - Kabupaten Lumajang bagian barat. Mengapa simpan pinjam, karena operasionalnya mudah, keuntungannyapun dengan mudah bertambah-tambah sejalan dengan semakin banyaknya nasabah. Tetapi keanggotaan koperasinya “semu”, karena terdiri dari para peminjam uang, bukan karena adanya kesatuan usaha yang didasarkan atas program kerja yang disusun bersama. Penguruspun banyak yang tidak mengurus pinjaman anggotanya, apakah untuk kegiatan produksi apakah untuk dikonsumsi. Masalah lalu timbul setelah para peminjam tidak dapat mengembalikan pinjamannya tepat waktu, karena masalah kesulitan likwiditas. Yang memprihatinkan lagi, para “anggota” koperasi yang meminjam uang di koperasi bukannya bertambah baik perekonomian keluarganya, tetapi tak sedikit yang semakin susah. Indikatornya mudah. Rumahnya tak bertambah baik, anak-anaknya yang sekolah semakin banyak yang terlambat membayar uang sekolah. Hal itu terjadi sejak sepuluh tahun lalu tepatnya awal 2002 hingga awal 2011.

Beberapa pengurus, terutama yang muda-muda lalu dengan keberaniannya mengadakan pembicaraan dengan Imam Suwoko – yang akrab dipanggil Buyung – selaku ketua. “Kalau terus begini, maka yang celaka bukan hanya para anggota yang tidak dapat mengembalikan pinjamannya. Tetapi juga kita para pengurus yang harus mempertanggungjawabkannya. Tanggung jawab didepan anggota, tanggung jawab didunia hingga tanggungjawab setelah mati nanti”, demikian kata Pak Buyung didepan teman-temannya. “Bukan hanya pengurus Mas Buyung, tetapi juga para anggota yang berhutang itu kalau mati, amalnya kan tak dapat dihisab sebelum hutangnya didunia dilunasi, oleh ahli warisnya”, sambung Sutoyo yang muda.

Inilah agaknya awal dari perubahan itu dua tahun lalu, yaitu berupa kesadaran bahwa manusia, termasuk pengurus koperasi, yang menyadari bahwa manusia itu akan mati dan ada kehidupan setelah mati dengan pertanggungjawaban atas segala tugasnya selama masih hidup. Buyung, Sutoyo, Karju, Sartono dan beberapa pengurus Koperasi “Sri Lestari” lalu mulai mengadakan pembahasan terhadap kemelut didalam lembaga koperasinya yang “beranggotakan” lebih dari 200 orang itu. Pembahasan dimulai dari identifikasi terhadap para anggota yang menunggak hutang, untuk mencari penyebab mendasar hingga anggota itu menunggak. Beberapa saat kemudian ditemukan bahwa, peminjam koperasi yang sebagian besar petani itu menggunakan pinjamannya untuk usaha pertanian tetapi gagal. Ada yang gagal diproses produksi, tetapi kebanyakan gagal dipemasaran hasilnya. Selain mengalami harga jatuh saat panen, tetapi tak sedikit yang “ditipu” oleh pedagang. Barangnya dibawa dengan harga tertentu, tetapi pembayarannya dipotong dengan alas an harga dipasaran anjlog. Tetapi anehnya para pedagang itu semakin kaya saja. Artinya, para pedagang hasil pertanian itu tidak pernah rugi. Sementara petaninya menjadi korban.

Sebagian lain, tak sedikit anggota koperasi yang menggunakan pinjamannya tidak sesuai peruntukannya saat meminjam. Saat meminjam ditulis untuk usaha pertanian – tetapi dalam prakteknya banyak untuk keperluan konsumsi. Jumlah anggota yang “menyimpangkan” pinjamannya ini bahkan lebih dari separuh peminjam dengan total modal macet yang cukup besar.

Kesimpulan dari penelusuran penyebab gagal bayarnya para peminjam dikoperasi sudah ditemukan. Pertama karena gagal dalam usahatani budidaya, dengan sebagian besar dipemasarannya. Kedua karena adanya “penyimpangan”, karena terdesaknya anggota oleh kebutuhan seperti membayar sekolah anaknya dan keperluan konsumsi dan sosial lain. “Itu penyebab dianggota Mas” kata Sutoyo. Ada penyebab lain yang juga perlu disadari dan perlu perbaikan, yaitu karena pengurus koperasi belum memiliki program kerja yang baik yang dapat dilaksanakan oleh para anggota dengan menggunakan pinjaman modal itu. Program produktif yang mampu mengembangkan modal pinjaman menguntungkan bagi anggota dan koperasi, sambung Sutoyo dengan berani.

Para pengurus inti yang aktif beribadah itu lalu termenung. Introspeksi yang dilakukan bersama itu seperti dokter menemukan “penyakit” pada pasien yang berpenyakit kronis. Mereka bersyukur, karena kesadaran atas kesalahan pengurus dan anggota dapat ditemukan dengan baik. Hingga tibalah waktunya membahas “obat” mujarab untuk mengobati “penyakit” Sri Lestari yang sebanarnya lahir dan tumbuh ditanah yang subur dilereng G. Semeru itu, namun gagal berbungan dan berbuah.

Buyung dkk sepakat, dan membuat simpulan atas “obat” untuk menyembuhkan koperasi pertanian Sri Lestari sebagai berikut:
a.Kunci dari masalah gagal bayar itu adalah, bahwa pinjaman para anggota itu harus digunakan dengan benar dalam usaha produktif yang menguntungkan. Modal pinjaman dikembalikan tepat pada waktunya dan keuntungannya dapat digunakan untuk keperluan konsumsi dan sebagian dapat ditabung untuk memupuk modal.
b.Sri Lestari adalah koperasi pertanian (koptan). Para peminjam sebagian besar adalah petani, sehingga bidang usaha pertanian merupakan basis usaha ekonomi yang perlu diperbaiki.
c.Agar para anggota dapat melakukan kegiatan produktif yang menguntungkan, perlu dibuat program kerja koperasi yang memperbaiki proses budidaya pertanian dan perbaikan dalam menangani pemasarannya.

Mulai awal 2011 konsolidasi intensif dilakukan. Pengurus berhasil membuat program kerja pengembangan Agribisnis yang berorientasi kepasar. Manajemen koperasi bertugas melaksanakan program agribisnis dan menggandeng pasar sebagai mitra wajib dalam menjual produk petani anggota koperasi. Pasar yang dijadikan lokomotif dalam kegiatan usahatani yang dilakukan oleh para anggota. Para anggota yang meminjam modal untuk usahatani “wajib” melaksanakan kegiatan budidaya yang dipandu oleh manajemen koperasi mulai dari jadwal tanam, pemilihan jenis komoditi, pelaksanakan teknik budidaya, pasca panen hingga pemasarannya.

Pasar pertama yang digandeng oleh manajemen adalah industry pengolahan yang membutuhkan produk cabe secara kontinyu. Manajemen punya keyakinan, dengan memiliki mitra pasar industry, pemasaran produk Cabe petani terjamin. Manajemen lalu mengatur produksi Cabe yang panen kontinyu sehingga pasokan ke industry juga kontinyu. Petani senang karena jaminan pasar itu dan manajemen koperasi lega, karena pengembalian pinjaman dapat dikaitkan dengan penjualan hasil yang dikoordinir oleh koperasi. Kerjasama dengan industry itu berjalan dengan baik, namun pengurus mulai menghadapi beberapa hambatan, yaitu tidak semua produk petani Cabe masuk kepabrik karena syarat mutu yang sangat ketat. Hambatan lain adalah pembayaran dari pabrik kekoperasi yang lebih dari tiga minggu hingga sebulan. Masalah lainnya adalah petani yang mengusahakan komoditi Cabe belum dapat ditangani pemasarannya dengan baik kalau hanya mengandalkan pasar lokal yang kapasitasnya kecil dengan system pasar yang masih sederhana. Koptan Sri Lestari yang anggotanya tersebar di Kecamatan Pasirian – Lumajang itu memiliki lahan petanian yang subur, yang sangat cocok untuk budidaya tanaman apa saja, termasuk padi – palawija – aneka sayuran dan buah. Dalam budidaya, tanaman Cabe tidak dapat ditanam terus-menerus dalam satu lahan, tetapi harus digilir dengan tanaman lain. Tanaman lain itulah yang memerlukan penanganan pemasaran pula oleh koperasi.

Untuk mengatasi masalah pemasaran yang sudah berjalan dengan mitra industry dan pemasaran komoditi non-Cabe, mulai awal 2012 Sutoyo dkk lalu menjalin kerjasama pemasaran produk sayuran & buah yang dihasilkan petani dengan Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas). Paskomnas dianggap cocok menjadi mitra pemasaran dengan koptan Sri Lestari karena mampu menerima semua jenis produk sayur - buah yang dihasilkan oleh petani anggotanya. Program akses Pasar (PAP) yang sedang dijalankan oleh Paskomnas dianggap sangat cocok dengan kebutuhan manajemen koptan Sri Lestari dalam memasarkan produk sayur – buah petani. Program PAP memberikan jaminan keamanan terhadap produk yang dipasok, membimbing koptan menyiapkan produk yang bermutu sesuai dengan kebutuhan pasar, menjamin semua grade produk sayur – buah terjual dipasar induk Paskomnas, membayar 50% dari produk yang dikirim ke Paskomnas sehari setelah produk sampai dipasar induk dan melunasinya maksimal lima hari setelahnya. Yang menyenangkan koptan lainnya adalah bahwa harga yang diperoleh oleh pemasok adalah sesuai dengan harga pasar yang terjadi dipasar induk. Koptan juga nyaman karena biaya yang harus dikeluarkan untuk Paskomnas selama proses pemasaran, penjaminan keamanan dan pembayarannya sangatlah murah. Selanjutnya Koptan Sri Lestari dapat semakin berkembang kedepan dengan kemudahan yang diberikan Paskomnas berupa peluang memasok produk sayur-buah kesemua pasar induk Paskomnas yang ada diberbagai kota provinsi yang telah dibangun. Dengan akan dibangunnya pasar induk Pasomnas disebagian besar kota provinsi di Indonesia, maka peluang koptan seperti Sri Lestari ini dalam memasarkan hasilnya akan semakin luas.

Pengaturan lalu dilakukan oleh Koptan Sri Lestari terhadap proses budidaya hingga pasca panen disesuaikan dengan permintaan atau peluang pasar yang ada dipasar-pasar induk Paskomnas. Dengan tetap bermitra dengan pasar industry Cabe, sejak awal 2012 hingga sekarang koptan Sri Lestari menjadi pemasok tetap pasar induk Paskomnas di PIOS Surabaya. Kuota pasokan yang semula hanya sekitar 2 ton sekali kirim, sekarang telah meningkat menjadi sekitar 5 ton sekali kirim. Frequensi kirim yang semula seminggu sekali, sekarang telah meningkat menjadi empat hari dalam seminggu. Lokasi pengiriman yang semula baru ke Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS), mulai 2013 ini akan dimulai memasok kepasar induk milik Paskomnas di Tanah Tinggi – Jakarta. Komoditi yang selama ini baru terbatas untuk beberapa jenis sayur dan buah, mulai 2013 ini akan ditingkatkan kebeberapa jenis, karena ada puluhan item komoditi yang selama ini menjadi peluang pasar di Paskomnas.
Untuk memperkuat kerjasama lebih lanjut, pada 14 Februari 2013 lalu telah ditandatangi MoU kerjasama kemitraan lanjutan antara Koptan Sri Lestari & Paskomnas di Lumajang. Acara penandatangan yang dihadiri oleh Pejabat Pemkab Lumajang, Kepala Dinas Koperasi & UKM Lumajang dan anggota koptan, hadir pula Kepala Kantor Cabang BNI wilayah Probolinggo – Lumajang, Uus Kadarusman, yang selama ini memberikan fasilitas kredit murah kepada koptan untuk kegiatan budidaya hingga pemasaran hasil. Dalam kesempatan itu Sutoyo selaku manajer koptan yang menangani program agribisnis mengatakan bahwa, besaran kredit dari BNI sebesar Rp2 M tahun lalu yang telah lunas tepat waktu, agaknya perlu ditingkatkan jumlahnya tahun ini. Untuk hal ini pihak BNI menyambutnya dengan baik dengan syarat, ada penjamin pemasaran dari produk yang dihasilkan petani di koptan Sri Lestari. Untuk itu pihak BNI akan terus melakukan koordinasi dengan Paskomnas dalam rangka monitoring terhadap kinerja koptan dalam pemasaran hasilnya. Kepala Dinas Koperasi & UKM Lumajang juga menyambut baik pertumbuhan dan perkembangan Koptan Sri Lestari ini yang menjadi pelopor dalam usaha produktif berbasis pertanian. “Ini tentu akan mampu menggerakkan banyak anggota masyarakat dengan baik, yang selama ini bertani secara individu dan kebingungan” kata Ibu Novi Handayani selaku kepala Dinkop & UKM Lumajang itu. Dalam tahun 2012 lalu Koptan Sri Lestari mampu memasok produk hortikultura ke pasar mitranya sebesar Rp5,6 M lebih. Produk sayur itu dihasilkan oleh 288 anggota koperasi yang penanamannya deprogram oleh koperasi. Selain para petani telah memperoleh keuntungan dari proses pasokannya, diakhir tahun 2012 masih ditambah dengan pembagian SHU yang dilakukan secara proporsional sesuai dengan besaran nilai produk yang dipasok selama setahun.

Dalam kesempatan itu Direktur Pengembangan Agribisnis – Paskomnas yang mewakili perusahaan mengatakan bahwa, dipasar induk Paskomnas pemain pasarnya banyak. Banyak Gapoktan, Koptan, CV, PT atau perorangan yang menjalin kerjasama pemasokan produk sayur – buah dan beras. Bahkan mulai tahun depan, akan banyak pesaing datang dari luar negri untuk produk ang sama. Mereka terus melakukan inovasi baru untuk memperbaiki produksi sesuai dengan peluang yang ada dipasar. Inovasi itu menyangkut membuat produk yang mutunya semakin baik, biaya semakin efisien, harga jual lebih murah, sehingga pemasok dapat menjual jumlah produksi semakin besar. Dengan begitu keuntungan yang akan diperolehpun akan semakin besar. Untuk itu koptan Sri Lestari harus semakin inovatif dan cerdas dalam menyikapi pasar yang semakin dinamis itu. Banyaknya pesaing harus menjadi pemacu dalam melakukan inovasi dan persaingan sehingga menang dipasar. Paskomnas akan berusaha mengatur agar semua produk dari banyak pemasok dapat masuk semuanya kepasar induk yang dikelola secara nasional, namun tidak masuk bersamaan, hingga harga dapat stabil. Dengan begitu dapat dihindarkan terjadinya harga jatuh atau naik tajam tak wajar. Untuk menciptakan kerjasama lebih besar yang mampu mengendalikan pasar sayur – buah – beras secara berimbang secara nasional, perlu adanya koptan seperti Sri Lestari yang lebih banyak. Hanya dengan koptan-koptan sebaik Sri Lestari produksi dan pasar nasional sayur – buah – beras dapat terkendali. Dan, hanya koptan yang pengurusnya sadar kalau ada hidup setelah mati, yang akan mampu bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab. “Kamipun, seluruh manajemen Paskomnas juga menyadari besuk akan mati dan takut masuk neraka, sehingga akan menyelenggarakan dan memfasilitasi koptan-koptan dan mitra pasar kami dengan professional, jujur dan transparan” kata kami.

Soekam Parwadi

kembali «

print
Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 441632 kali | webmail | Disclaimer
Perubahan terakhir pada: 27 Agustus 2014
powered by Red Colibri