Pasar Komoditi Nasional

Komoditi penting dan strategi pengadaannya

kata kunci: komoditi , pasar , pengadaan , stok

PASKOMNAS - Jaman dulu para sesepuh kita wanti-wanti terhadap tiga hal sekaligus menjadi cita-cita, yaitu untuk kecukupan “sandang – pangan – papan”. “Sandang rapet – mangan wareg – papan jejeg”, merupakan jabaran Lebih lanjut tiga hal itu beserta tingkat capaiannya. Karena itu merupakan slogan sekaligus cita-cita, tentu maknanya amat luas atau dalam. Setelah jaman berkembang, karena pangan dianggap merupakan kebutuhan “fa’ali” paling sensitive tingkat kecukupannya, paling tidak sejak jaman Orde Baru soal pangan ini menjadi bagian dari “sembilan kebutuhan pokok” manusia Indonesia yang popular disebut “sembako”. Dalam perkembangannya lalu pemerintah membuat rumusan baku yang ditetapkan melalui keputusan Menteri Perinndustrian dan Perdagangan no. 115/mpp/kep/2/1998 - tanggal 27 Februari 1998, kesembilan bahan kebutuhan pokok itu meliputi 1). beras , sagu dan jagung ; 2). gula pasir ; 3) sayur-sayuran dan buah-buahan;  4) daging sapi dan ayam ; 5) minyak goreng dan margarin ; 6) susu ; 7) telur ; 8) minyak tanah atau gas ELPIJI, serta 9) garam beriodium dan bernatrium. Dari kesembilan bahan pokok itu, tujuh diantaranya adalah bahan pangan.

Begitu pentingnya pangan sebagai kebutuhan pokok karena menyangkut masalah perut. Ada pernyataan bahwa “lapar itu dekat dengan kufur”, orang yang kufur atau hilang akal sehatnya dapat berbuat apa saja termasuk melanggar hukum dalam rangka memenuhi kebutuhan pangannya. Itu berarti kebutuhan pangan sangat penting, hingga waktu itu diprogramkan peningkatan produksi pangan hingga ada program ketahanan pangan. Yang terakhir ini, setelah masuk “jaman reformasi” berkembanglah semangat itu menjadi “kedaulatan pangan”. Bahkan dikuatkan dengan Undang-undang No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan yang didalamnya diatur detail tentang Kedaulatan Pangan. Tetapi agaknya hingga hari ini, “mimpi” tentang kedaulatan pangan itu bukannya semakin dekat dengan kenyataan, tetapi justru semakin mengkhawatirkan.

Pasar dan lapangan sepak-bola.
Produk pangan menjadi produk penting bagi manusia sehingga menarik minat bagi pengusaha untuk memperdagangkannya. Sejak menarik itulah, maka produk pangan yang dulu hanya diusahakan secara subsisten (petani memproduksi bertujuan untuk mencukupi pangan), entah mulai kapan produk pangan itu menjadi “mata dagangan” atau komoditi yang diusahakan untuk tujuan komersial.

Awalnya sisa dari konsumsi dibawa kepasar untuk dijual, kemudian pada tahap yang lebih maju hasil panen lebih diorientasikan untuk dijual kepasar.

Melihat pasar komoditi pangan di Indonesia, agaknya seperti melihat lapangan sepak bola kita. Banyaknya produk import dipasar – dan disenangi konsumen. Mirip dengan banyak pemain asing dilapangan sepak bola kita – yang dipuja oleh penonton kita. Masuknya produk import kepasar domestik memang sudah banyak dikritik, dipahami kurang baik, tetapi dibutuhkan konsumen. Mendekati tahun 2015, saat kawasan Asia menjadi kawasan bebas berbisnis, dengan penduduk melebihi 250 juta, Indonesia memang merupakan pasar yang sangat potensial. Potensi itu semakin dinamis karena tingkat pendapatan rata-rata penduduk Indonesia sudah mendekati 4.000 USD/kapita/tahun diakhir 2012 lalu. Saat itu nanti, saat masyarakat butuh komoditi bermutu, sementara kita belum mampu memproduksi & menyediakannya, agaknya import dapat menjadi jalan keluarnya. Namun mestinya tetap mempertimbangkan penguatan produk domestik untuk mampu menjadi pemain utama dipasar dalam negri.

Usaha “membendung” masuknya produk import terus dilakukan, termasuk membatasi jumlah pelabuhan masuknya. Namun agaknya para pengusaha asing mengubah strateginya. Saudagar asing itu tidak lagi mengusung produknya ke Indonesia, tetapi membawa “tas”nya dengan label “modal investasi” ke Indonesia. Mereka juga membawa tenaga manajemen yang handal, membawa benih unggul, membawa peralatan & teknologi. Mereka mulai melakukan usaha agribisnis ditanah-tanah Indonesia dari hulu sampai hilir. Mulai pertengahan 2012 lalu beberapa pengusaha dari Korea, Jepang & Cina bahkan sudah mulai sibuk mencari lahan pertanian di Indonesia untuk membuka usaha budidaya. Contohnya, pada September 2012 Dubes Republik Indonesia untuk Korea Selatan John A Prasetio menjelaskan, investasi di sektor agro tersebut didorong dalam rangka ikut menjamin ketersediaan pangan di kawasan Asia, khususnya di Indonesia dan Korsel.

Dengan begitu, nantinya “produk-produk import” itu sudah tidak susah payah lagi melewati pelabuhan yang dibatasi, karena sudah dihasilkan dari kebun & ladang Indonesia. Produk asing itu sudah mengalami “naturalisasi’ di Indonesia. Indonesia memang Negara berdaulat, tetapi untuk pemenuhan kebutuhan pangan – kedaulatan kita agaknya semakin di”jajah” saja oleh produk import. Sama seperti lapangan sepak bola kita.
Komoditi strategis.
Disebut komoditi atau mata dagangan strategis karena pengaruhnya terhadap perekonomian yang besar. Dari produk pangan yang masuk sembilan bahan pokok (sembako) kebutuhan masyarakat itu, semua memiliki derajat penting yang hampir sama. Namun diantara beras , sagu & jagung ; gula pasir ; sayur-sayuran & buah-buahan (hortikultura) ; daging sapi & ayam ; minyak goreng & margarin ; susu ; telur serta garam beriodium & bernatrium, produk hortikultura, khususnya sayur tertentu merupakan komoditas yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap inflasi. Misalnya diawal Januari lalu, karena adanya kenaikan tajam beberapa jenis sayur, inflasi pada Januari 2013 mencapai 1,3 %, melebihi perkiraan 0,9 %. Penyebabnya adalah karena adanya kenaikan harga dari Cabe merah 33,43 % ; Bawang merah 15,66 % dan Bawang putih 11,41 %. Selebihnya disebabkan oleh kenaikan harga daging ayam 09,50 % ; harga ikan 03,69 % dan beras < 02,50 % .
Kalau menilik pengaruhnya terhadap inflasi, maka untuk kelompok sayuran Cabe, Bawang Merah, Bawang putih dan daging ayam beserta komoditi sayuran lain dapat disebut komoditi strategis, sehingga perlu penanganan tepat. Walau demikian, ketersediaan beras, gula pasir, susu, telur, daging , susu hingga garam dan lainnya tetap perlu diperhatikan.

Berdasarkan asumsi jumlah penduduk Indonesia pada 2013 sebesar 248.334.141 orang dan konsumsi perkapita untuk komoditi Cabe dan bawang merah, maka kebutuhannya nasional komoditi Cabe, bawang merah, Bawang putih dan beberapa komoditi sayuran pertahun datanya adalah sebagai berikut :


Komoditi sayur disebut strategis karena beberapa hal, pertama - karena dibutuhkan setiap saat dan tidak tergantikan perannya dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Kedua - karena sifatnya yang cepat rusak (perishable). Usaha pengawetan sayuran telah telah tersedia teknologinya, namun konsumen tidak suka dengan sayuran awetan sehingga konsumen tetap menuntut untuk disediakan sayur segar dipasar.


Untuk memenuhi kebutuhan sayur segar itulah diperlukan upaya-upaya khusus dalam kegiatan budidaya, pasca panen dan distribusinya kepasar-pasar komoditi yang tersebar. Karena letak konsentrasi konsumen tersebar, belum adanya pengaturan pasokan secara nasional terhadap komoditi sauran ini, sehingga sering terjadi ketidak seimbangan antara pasokan dan permintaan disetiap daerah konsumen. Akibatnya disparitas harga antara daerah cukup tinggi. Kalau perbedaan antara daerah itu lalu ‘direaksi” oleh para pedagang secar individu, akibatnya sering terjadi pergerakan komoditi kesuatu daerah secara bersamaan. Setelah itu tiba gilirannya harga “jatuh” didaerah itu karena pasokan melampaui kebutuhan.

Berdasarkan populasi penduduk yang ada disentra-sentra konsumen, kebutuhan beberapa sayur strategis adalah sebagai berikut:












Komoditi stategis berikutnya adalah buah-buahan. Walau tidak tahan lama, tetapi buah-buah segar tertentu memiliki ketahanan lebih panjang dibanding sayuran, misalnya jeruk, apel, durian, pisang, nanas, alpukat, semangka, papaya dan banyak lagi buah tropis lainnya. 

Seperti sayuran, pasokan buah kepasar domestic juga menarik para pelaku perdagangan intenasional untuk memasok pasar Indonesia. Bahkan seperti apel, jeruk dan anggur, buah import itu jumlahnya dipasaran mengalahkan buah lokal Indonesia. Hal itu karena buah import selain mutunya lebih baik, manajemen pasokannya lebih baik terutama dalam mengatur kontinyuitasnya.
Adapun kebutuhan komiditi buah dibeberapa kota di Indonesia sebagai berikut:












Strategi Pengadaan dan distribusi.

Dalam rapat dengan Kantor Wakil Presiden beberapa bulan lalu di Bogor muncul pertanyaan sama dengan yang ditanyakan oleh banyak petani, yaitu “bagaimana agar ada stabilisasi harga produk hasil pertanian dipasar”. Jawabannya “bisa”, dan kata kunci untuk stabilisasi harga itu adalah stabilisasi pasokan sesuai kebutuhan konsumen/kapasitas pasar. Misalnya untuk Cabe Merah, berdasarkan table kebutuhan konsumsi diatas, daerah Jabodetabek hanya membutuhkan Cabe sebesar 56 ton lebih sedikit setiap hari. Kalau pasokan melampaui 56 ton, maka pada jam itu harga akan turun. Namun kalau pada jam berikutnya pasokan dipasar turun, maka harga akan naik. Naik turunnya harga akan sangat ditentukan oleh besar kecilnya kenaikan atau penurunan pasokan itu sendiri.

Untuk menghadapi itu maka, ada dua strategi yang harus dilaksanakan secara bersamaan terhadap komoditi sayur/buah yang tak mampu bertahan lama atau bersifat “perishable” itu.

Pertama, strategi pengadaan. Ada beberapa tahap yang harus dilalui dalam proses pengadaan produk yang strategis itu. Strategi harus tercermin dalam progam dan kegiatan yang meliputi penciptaan jenis unggul spesifik lokasi hingga penataan kelembagaan produsennya sebagai berikut:

• Penciptaan jenis unggul spesifik lokalita. Untuk mengurangi ketergantungan dengan jenis import, perlu diciptakan jenis unggul khas Nusantara. Indonesia kaya akan plasmanuftah asli Indonesia untuk sayuran dan buah. Kalau harus mengambil jenis unggul dari luar negri, sebaiknya berupa bahan buka benih jadi. Fungsi ini sebaiknya dilakukan dan dibiayai oleh pemerintah yang membidangi penelitian dan pengembangan. Negara Indonesia adalah agraris, litbang disektor ini harus kuat.

• Inovasi teknologi. Prinsip hari esok harus lebih baik dibanding dengan hari ini harus menjadi motivasi bahwa produk esok yang dibawa kepasar harus semakin unggul dipasaran. Unggul itu mutunya lebih baik dan harganya “miring” dibanding dengan produk pesaing. Inovasi harus dilakukan tiada henti karena pesaing juga melakukan itu. Inovasi harus mampu mengatasi musim yang ekstrim, hama penyakit dan perbaikan mutu produk. Inovasi ini sebaiknya juga dilakukan dan didukung oleh lembaga pemerintah, sehingga masyarakat pelaku terjamin kemajuannya dengan teknologi temuan terbaru. Teknologi akhirnya harus dibakukan berupa Standard Operasional Prosedur (SOP) mulai dari kegiatan budidaya (GAP), penanganan produk (GHP), Pengolahan (GMP) hingga distribusi & perdagangannya (GTP).

• Pola tanam yang berorientasi pasar atau “grow on demand”. Tujuannya agar tidak terjadi panen melimpah dan “paceklik produk” yang menjadi “biangnya fluktuasi harga”. Pola tanam dan pengendalian luas tanam diatur disesuaikan dengan potensi agronomis antar daerah dan kebutuhan pasar. Pola tanam perlu dikendalikan secara nasional, pelaksanaannya diserahkan pada daerah setigkat provinsi.

• Pembangunan pusat-pusat distribusi, atau disebut “pasar induk”. Pasar Induk dibangun dipusat konsumen/kota besar. Pasar induk haus dikelola berjaringan nasional dengan manajemen adil, aman & transparan. Hanya pasar induk yang berjaringan nasional yang mampu mengatur keseimbangan pasokan antara daerah. Hal ini bertujuan untuk mengatasi disparitas harga antar daerah dan menghilangkan masalah “gagal bayar” yang merugikan petani. Pasar Induk juga berfungsi sebagai “filter sampah” hasil kupasan produk kotor yang berasal dari daerah. Dengan begitu kota akan menjadi bersih dan produk akan tetap segar masuk kota. Pasar Induk sebaiknya dibangun ditepi kota, selain mudah dijangkau oleh pemasok daerah, kendaraan pengangkut besar menjadi tidak perlu memasuki kota. Pasar induk harus juga mampu menjadi pusat informasi kebutuhan pasar terus menerus bagi petani/pemasok didaerah.

• Re-desain infrastruktur kawasan sentra produksi (hinterland), khususnya jalan usahatani & jaringan irigasi. Pembangunan dilakukan bersama masyarakat. Jalan usahatani dibangun bertujuannya agar angkutan local lancar, cepat, murah dan produk tidak rusak. Pembangunan irigasi bertujuan agar air efisien, semua lahan dapat dimanfaatkan sesuai dengan ketersediaan airnya. Disentra produksi perlu dibangun Sub Terminal Agribisnis (STA) untuk menyiapkan produk yang akan dikirim kepasar induk. Untuk angkutan dari sentra produksi kepasar induk kota, perlu difikirkan menggunakan “kereta api barang” yang “bebas macet dijalan raya”. Kereta api adalah angkutan missal terbaik yang mampu mengatasi macetnya jalan raya.

• Pematangan organisasi atau kelembagaan petani. Dulu bentuk kelompok tani/gapoktan yang bersifat “paguyuban” harus diubah menjadi kelembagaan agribisnis korporasi formal dan professional. Organisasi formal ini harus menjadi Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang mampu mengelola sentra komoditi unggulan spesifik tertentu. BUMP dikelola oleh orang-orang berkarakter jujur, cerdas, tekun, speed, amanah dan berkomitmen tinggi. BUMP harus memiliki aksesibilitas tinggi atau mitra dengan innovator, sumber modal dan mitra pasar yang baik & professional. BUMP harus menjadi pemasok utama pasar induk, sehingga produknya menguasai pasar. BUMP harus memiliki usaha menguntungkan bagi anggotanya, mampu memanfaatkan modal komersial secara tepat, mampu memupuk modal & investasi, menjadi pusat pertumbuhan ekonomi diwilayahnya, mampu mandiri dan membagi sebagian keuntungannya untuk keperluan sosial bagi masyarakat kurang mampu disekitarnya. BUMP haus mampu menjadi lembaga yang menjamin produksi petani berlangsung baik, menjamin pemasarannya hingga mampu mendistribusikan keuntungan secara adil dan merata kepada petani anggotanya. Pembagian tentu haruslah proporsional sesuai dengan peran masing-masing.

• Peran-serta pemerintah daerah yang kuat. Kendali pemerintah disentra produksi pertanian saat ini adalah pemerintah daerah. Pimpinan daerah perlu menguasai kerangka pembangunan agribisnis yang berorientasi kepasar. Pimpinan daerah harus dibantu oleh petugas profesional dalam pengembangan agrisnisnis. Tidak harus banyak, tetapi harus professional dan ada setiap saat. Karena salah satu kelemahan petani adalah kemampuan manajemen, tenaga professional itu dapat menjadi tenaga pengelola/manajemen agribisnis di BUMP yang “dibayar” oleh BUMP.

Strategi distribusi. Masalah distribusi menyangkut pemerataan, kecepatan, ketepatan, keamanan dan efisiensi. Agar semua dapat berlangsung baik mulai dari sentra produksi hingga konsumen, maka diperlukan dua perangkat penting yang saling melengkapi, yaitu perangkat lembaga yang mengelola perangkat fisik.

• Perangkat lembaga. Disentra produksi, ada lembaga produsen yang memproduksi barang secara terencana. Dipasar ada lembaga pasar induk. Keduanya harus bekerjasama yang dilandasi kejujuan dan profesionalisme. Perencanaan produksi dibuat bersama antara petani produsen dengan lembaga pasar induk yang memiliki jaringan nasional. “Biang” masalah jatuh bangunnya petani hingga merugi itu adalah karena kegiatannya dilakukan tanpa “bertanya” atau tanpa kesepakatan dengan pasar. Lembaga kedua adalah lembaga distribusi, yang bertugas mengantarkan produk dari sentra produksi kepasar induk. Lembaga distribusi ini adalah lembaga jasa yang tidak mencampuri kebijakan dan kejasama antara produsen dan pasar induk.

• Perangkat fisik. Untuk melancarkan kinerja produsen, disentra produksi perlu dibangun perangkat seperti halte-produk dilahan dan STA dikawasan. STA pada dasarnya adalah lembaga yang dilengkapi prasarana fisik. STA bukan hanya bangunan fisik. Perangkat fisik yang melengkapi pasar induk adalah bangunan yang nyaman bagi pemasok dan bagi pelaku perdagangan. Pasar induk yang baik, harus dilengkapi pula dengan system administrasi yang terbuka, lembaga keuangan dan sarana “kehidupan pasar” bagi para pelaku pasar.


Indonesia harus berdaulat pangan.
• Indonesia harus mandiri dan berdaulat dalam penyediaan pangan. Kita harus yakin bahwa kita mampu mencukupi kebutuhan kita sendiri terutama komoditi pangan asalkan pemerintah dan swasta benar2 fokus menangani ini dengan kerjasama membuat suatu rencana jangka pendek , menengah dan jangka panjang.

• Dalam waktu dekat kita mesti focus pada pemenuhan kebutuhan dalam negri secara mandiri. Setelah itu, produksi dapat diarahkan untuk menghasilkan produk spesifik Indonesia yang ditujukan untuk pasar eksport. Misalnya buah2 an tropis , tentu kita akan unggul, kalau kita merencanakan dengan baik dan dilaksanakan dengan sungguh2.

• Pendapatan masyarakat yang rata-rata mendekati 4.000 USD/kapita/tahun menuntut penyediaan produk yang bermutu. Untuk itu harus ada perbaikan jenis komoditi, perbaikan teknologi, perbaikan kelembagaan petani, perbaikan pola tanam/pola panen berdasarkan kebutuhan konsumen/pasar.

• Semua upaya itu harus dimotori oleh pemerintah bekerjasama dengan pemangku kepentingan & pelaku usaha yang baik dan benar.


Solo, 26 Pebruari 2013.

 

 

kembali «

print
Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 483686 kali | webmail | Disclaimer
Perubahan terakhir pada: 14 Oktober 2014
powered by Red Colibri