Pasar Komoditi Nasional

Informasi jenis dan kuota komoditi - Di Paskomnas Indonesia

kata kunci: sayur , pasar tanah tinggi , komoditi

PASKOMNAS - Informasi jenis dan kuota komoditi Di Paskomnas Indonesia
Lokasi : Induk Tanah Tinggi.

Komoditi : sayur

Komoditi sayur yang masuk ke Pasar Induk Paskomnas terbagi menjadi dua golongan berdasarkan fluktuasi harganya.

a. Sayur golongan – 1, adalah beberapa jenis sayuran yang memiliki fluktuasi harga tajam, misalnya komoditi Cabe. Saat pasokan kurang, harga menjadi tinggi jauh dari harga “normal”nya. Sebaliknya saat pasokan berlebih melampaui kapasitas permintaan pasar, harga akan turun dibawah harga “normal”nya.

b. Sayur golongan – 2, adalah beberapa jenis sayuran yang harganya cenderung “stabil”. Kalau terjadi kenaikan dan penurunan harga tidak begitu tajam.

Besarnya peluang pasokan di Pasar Induk Paskomnas (Pasar Induk Tanah Tinggi - Tangerang) untuk “harga normal”, untuk sayuran golongan-1 dan golongan-2 sebagai berikut:

No

Sayur Golongan-1

Ton/hari

Jenis/mutu

kemasan

1

Cabe kriting

120

TM 99, Tanamo

kardus

2

Cabe merah besar

20

Gada F1, Sultan F1

kardus

3

Cabe Rawit merah

20

Dewata F1

Kardus/jaring

4

Cabe besar hijau

10

Gada F-1, Hor Chili

kardus

5

Tomat buah

60

Martha, Martatav

Kotak kayu

6

Kobis

140

Talenta

Jaring,plastik

7

Bawang Merah

120

Bima, Sanren F-1

Jaring merah

8

Kentang

70

Granola

Jaring kuning

 

No

Sayur Golongan-2

Ton/hari

Jenis/mutu

kemasan

1

Terong Ungu

30

Raos F1, Yumi F1

Jarring, plastic

2

Ketimun lalap

12

Bandana, Sabana

Jarring, plastic

3

Paria Hijau

10

Dulco, Lipa F1

Jarring, plastic

4

Kacang panjang

18

Parade Tavi, Parade

Ikat

5

Kobis bunga

25

PM126, Luna

Koran, kranjang

6

Sledri (Cabutan)

10

Jade, Amigo

Ikat, daun pisang

7

Wortel Cipanas

18

Cipanas/Pusaka, kuroda

Plastic, karung

8

Oyong

8

Prima F1

Plastic, jaring

9

Cecek (Nangka sayur)

15

Local hijau lonjong

curah

10

Jagung Manis

30

Bonanza

karung


 c. Harga normal.

“Harga normal” adalah harga yang sudah menguntungkan petani pemasok tetapi juga tidak memberatkan konsumen. Untuk beberapa komoditi sayuran Paskomnas mengumpulkan data harian dan mencoba menyimpulkan tentang posisi “harga normal” itu dipasar. Selama ini yang terjadi adalah petani produsen berharap dapat menjual hasil produk pertaniannya dengan harga yang setinggi-tingginya. Sementara para konsumen berharap membeli produk pangan itu dengan harga yang murah. Dua harapan “emosional” itu tentu tidak menguntungkan kedua belah pihak, sehingga perlu harga “tengah” atau dalam didalam ilmu pemasaran disebut harga keseimbangan (equilibrium price).

Kondisi itulah yang ingin diciptakan oleh Paskomnas dalam mengelola pasar komoditas pangan nasional saat ini. Untuk mencapai kondisi atau tujuan itu, Paskomnas membangun dan mengelola pasar induk sebagai pusat distribusi diberbagai kota besar di Indonesia. Semua pasar induk dihubungkan dalam satu jaringan manajemen yang berpusat di Jakarta. Harga normal atau harga keseimbangan setiap komoditi pangan akan dicapai dengan cara mengendalikan jumlah pasokan kemasing-masing pasar induk Paskomnas disesuaikan dengan besarnya kebutuhan konsumen dimasing-masing kota besar.

Berdasarkan analisa demografi dan kebutuhan konsumen kota-kota besar di Indonesia, kondisi itu akan terwujud apabila telah terbangun 15 lokasi pasar induk yang dapat dikelola secara berjaringan. Saat ini Paskomnas telah membangun tiga pasar induk atau pusat distribusi pangan di Palembang, Jakarta dan Surabaya. Dalam waktu dekat akan ditambah Semarang, Makassar dan Banjarmasin. Sementara itu Sembilan lokasinya telah dirancang mulai dari Medan, Padang, Lampung, Pontianak, Manado, Mataram, Balikpapan, Kupang dan Manokwari. Kalau semua lokasi itu telah terbangun, dan manajemen Paskomnas telah sepenuhnya menerapkan PAP, maka harga pangan akan stabil. Kalaupun terjadi harga naik turun diperhitungkan tidak akan tajam atau ekstrim.
Berdasarkan pertimbangan kebutuhan konsumen dan besarnya BEP ditingkat produsen, besarnya pasokan dan harga normal beberapa komoditi disalah satu pasar induk Paskomnas di Tanah Tinggi – Tangerang yang melayani Jakarta dan sekitarnya adalah sebagai berikut:
Cabe kriting harga diterima pemasok Rp10.000,-/kg dan dipengecer Rp15.000,-/kg. Kobis, harga diterima pemasok Rp1.800,-/kg – harga dikonsumen Rp2.500,-/kg. Bawang merah, harga diterima pemasok Rp9.000,-/kg – harga dikonsumen Rp14.000,-/kg. Jagung Manis, harga diterima pemasok Rp2.900,- - harga dikonsumen Rp4.000,-/kg dan sebaginya.

d. Cara memanfaatkan peluang pasar itu.
Selama ini, pasar induk milik Paskomnas sudah berjalan. Antara pemasok dan pedagang selama ini sudah terjadi “hubungan” saling tergantung antara keduanya, namun hubungan itu belum secara formal. Untuk menjaga keamanan produk dari pemasok, terutama pembayarannya dan menjaga kualitas – kuantitas – kontnyuitas produk yang diterima pedagang, Paskomnas membuat Program Akses Pasar (PAP).

Tujuan utama PAP pada dasarnya adalah memperkuat hubungan antara pemasok dengan pasar induk sehingga pasokan produk pertanian, khususnya sayur & buah, dipasar induk mendekati seimbang antara pasokan dan kebutuhan konsumen. Dengan begitu akan tercipta harga “stabil” atau normal. Suatu keadaan yang baik bagi petani produsen, pelaku perdagangan, jasa distribusi dan konsumen.

Untuk memanfaatkan peluang pasar itu maka langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh produsen, agar mampu menjadi pemasok pasar induk langsung adalah sebagai berikut:

• Langkah – 1, para petani dalam satu kawasan yang luasnya 100 – 200 ha perlu menyatukan diri dalam satu lembaga korporasi formal. Hal ini bertujuan untuk mengatur kegiatan produksi mulai dari jenisnya, teknologinya, kebutuhan sarana produksinya, waktu tanam & panennya, sortasi & gradingnya dan pengaturan pasokannya kepasar induk. Pengatuan dilalukan oleh pengurus atau manajemen lembaga korporasi yang memiliki kemampuan dan jujur dalam meningkatkan pendapatan petani secara bersama.

• Langkah – 2, manajemen korporasi mengadakan hubungan dengan manajemen Paskomnas untuk memilih komoditi yang dapat dikembangkan didaerah/lahan korporasi. Bersamaan dengan itu, manajemen korporasi meneliti komoditi yang paling cocok untuk dikembangkan didaerahnya sesuai dengan yang diminta oleh pasar induk Paskomnas. Sebaiknya ditentukan 2 – 3 jenis komoditi utama saja dalam satu lembaga korporasi. Hal ini agar korporasi menjadi “spesialis” dalam produksi 2 – 3 komoditi itu. Komoditi yang dipilih itu sebaiknya dari “sayuran golongan – 2”, karena inputnya rendah, resiko budidayanya rendah dan harganya cenderung stabil.

• Langkah – 3, manajemen lembaga korporasi bersama manajemen Paskomnas secara bersama menyusun program kerja budidaya 2 – 3 komoditi itu, yang didalamnya adalah adanya jadwal panen dan jadwal pasokan komoditi dari korporasi ke pasar induk Paskomnas.

• Tahap – 4, pelaksanaan program kerja. Untuk tahap awal, korporasi sebaiknya mengambil sebagian peluang dari 2 – 3 jenis komoditi yang ada dipasar induk Paskomnas, untuk setiap kali pasokan.

Misalnya, dari data yang ada, kapasitas permintaan Terong Ungu dipasar induk 30 ton/hari ; ketimun lalap 12 ton/hari ; jagung manis 30 ton/hari. Sebaiknya korporasi memulai memasok ketiga jenis itu mulai dari Terong Ungu 2 ton + Ketimun lalap 2 ton + jagung manis 2 ton. Ketiga jenis komoditi itu jumlahnya 6 ton. Untuk tahap awal pula, frekwensi pengirimannya seminggu sekali – misalnya tiap hari Senin. Kalau dalam kiriman seminggu sekali tersebut sudah lancar, frekwensinya dapat ditambah menjadi 2x/minggu, misalnya Senin dan Kamis. Bila kiriman 2x/minggu sudah lancar, dapat ditingkatkan menjadi 3x/minggu – Senin – Kamis – Sabtu. Dan seterusnya hingga dapat mencapai 7x/minggu. Volumenyapun dapat ditingkatkan sejalan dengan kemampuan berproduksinya dan kesukaan pedagang/konsumen terhadap produk korporasi karena mutunya baik – harganya lebih rendah dari pesaing dan kontinyu pasokannya.

• Tahap – 5, komunikasi – evaluasi antara korporasi & paskomnas setiap saat, terutama untuk menggali masalah, lalu musyawarah pemecahan masalah dan perbaikan untuk proses selanjutnya.

Kalau peluang dan kapasitas masing-masing pasar induk pemenuhannya dapat dikendalikan bersama antara korporasi petani selaku pelaku agribisnis dihulu dengan Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) selaku pelaku agribisnis dihilir dengan prinsip, aman – adil dan transparan, maka petani akan semakin nyaman sebagai produsen dan pendapatan keluarga petani akan semakin meningkat.


Soekam Parwadi

kembali «

print
  • Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan - Revitalisasi pertanian & Perbaikan Jaringan Pemasaran Produk Pertanian
    Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan
    BACA SELANJUTNYA
  • Kobis, Porang dan Industry Kreatif
    PASKOMNAS - Kobis. Awal Juni lalu, Kobis dari China masuk pasar induk di Jakarta dan Tangerang menyusul “temannya” si Bawang Putih, wortel, Jeruk Pongkam, Apel, Peer dan lainnya yang sudah mapan dipasar Indonesia. Seperti komoditi pendahulunya, kobis krop China masuk dengan penampilan cantik dan harga yang lebih murah dari Kobis krop Pengalengan, Dieng, Bromo atau Brastagi. Tentu saja dalam waktu sekejab kobis import itu habis dan pembeli grosir berharap kobis yang dibungkus tissue itu datang lagi, sokor tiap hari, karena kobis merupakan makanan harian masyarakat. Benar, kobis memang salah satu jenis sayur banyak dikonsumsi rakyat hingga selebriti sehari-hari.Cepat habisnya kobis China dipasar itu penyebabnya jelas, yaitu karena mutu barangnya lebih baik dari kobis domestik dan harganya lebih murah. Waktu itu harga jual kobis Pengalengan dan Dieng dipasar induk Tanahtinggi – Tangerang Rp2.200,-, kobis Medan Rp3.000,- dan kobis China hanya dijual Rp1.800,-/kg. Ada dua hal yang menarik dari masuknya kobis China ke Indonesia itu.Pertama, Semua orang terkagum dengan harga kobis China itu sambil bertanya-tanya antar teman ngobrol dipasar.Perjalanan kobis dari China ke Jakarta memakan waktu hampir enam hari, tentu biayanya lebih mahal dibanding dari Medan ke Jakarta.Setelah dikurangi ongkos angkut, biaya kemasan, laba pedagang, bea masuk Indonesia dan laba petani, berapa harga pokok kobis itu dari petani di China sana. Kedua, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masuknya kobis murah tersebut kenegara kita. Tidah ada yang mampu menjawabnya.Semua menerawang dengan bayangannya sendiri, termasuk para pemasok kobis dari Dieng dan Medan yang mebayangkan, sampai kapan mereka masih dapat memasok kobis kepasar induk kalau barang import murah itu masuk terus.Sementara saya berfikir, inilah awal dari “habisnya usaha agribisnis Nusantara”.Nanti orang Dieng, Pengalengan dan lainnya dinegri kita tetap menanam kobis, tetapi hanya untuk dimakan sendiri – pertanian subsisten.Perlu diketahui, produksi Kobis nasional kita saat ini 1,487 juta ton/tahun dan kebutuhan konsumen 1,368 juta ton/tahun. Kita surplus, tetapi ada import, kasusnya sama dengan Bawang Merah dan Cabe atau Kentang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pasar Sebagai “Panglima”
    PASKOMNAS - Beberapa hari terakhir ini, kami selaku pengampu Direktorat Pengembangan Agribisnis – Paskomnas Indonesia, sering ditugaskan untuk memenuhi undangan beberapa kementerian dan beberapa daerah provinsi atau kabupaten. Paling sering adalah Kementerian Pertanian. Namun belakangan yang cukup “agresif” adalah Kementerian Dalam Negri – khususnya Dirjen PMD dan Kementerian Pembangunan Daerah Tetinggal (KPDT) dari Deputi Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha. Kementerian Perdagangan kadang mengundang kalau ada harga bahan pangan yang ekstrim tinggi. Kalau harga ekstrim rendah yang merugikan petani jarang mengundang, bahkan teleponpun tidak. Kementerian Koperasi - melalui Dinas-dinasnya diprovinsi - juga sering mengundang Paskomnas untuk diajak mengaktifkan KUD dan Koperasi pertanian yang sudah lama mati-suri. Dalam pertemuan tingkat nasional yang biasanya dihadiri dari perwakilan daerah dikementerian masing-masing itu, Paskomnas diminta berperan dalam “mengobati masalah” – yang biasanya sudah stadia parah – yaitu tentang pemasaran hasil pertanian. Jenis masalah yang paling banyak adalah “harga jatuh” dan petani kesulitan memasarkan hasilnya. Dari beberapa kali pertemuan itu, agaknya para pengundang dan peserta pertemuan berharap Paskomnas dapat mengobati segera “penyakit akut harga jatuh” yang sudah sering kambuh itu. Kecuali dari Kemendag, yang biasanya mengundang atau menghubungi kami saat terjadi “harga ekstrim tinggi”. Kemendag ingin Paskomnas dapat dengan segera ikut berperan mengatasi harga ekstrim tinggi itu, sehingga konsumen segera senang kembali. Pokoknya semua kepengin dua penyakit kambuhan pemasaran hasil pertanian di Indonesia itu segera dapat diobati sehingga petani senang, konsumen senang dan para pejabat publikpun senang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pokok-pokok pikiran -- Revitalisasi pertanian dan pembangunan system distribusi produk pertanian menuju Kedaulatan Pangan dalam 5 tahun kedepan
    Pokok-pokok pikiran
    BACA SELANJUTNYA

 

Berita Terkait

Lihat Berita Sebelumnya «

Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 494277 kali | webmail | Disclaimer | Peta Situs
Perubahan terakhir pada: 19 Desember 2014
powered by Red Colibri