Pasar Komoditi Nasional

Hati-hati dengan kemungkinan Import Bawang Merah

kata kunci: bawang , harga , pasar , import

PASKOMNAS - Ibu Erika dari Plumpang hari-hari ini mengeluh dengan uang belanjanya, terutama dengan melejitnya harga Bawang putih dan Bawang Merah yang menyentuh angka Rp40.000,-/kg dipasar eceran dekat rumahnya. Demikian juga Ibu Inti Khobiyah dari Muntilan atau Ibu Trisila di Rungkut Surabaya. Mereka menyatakan susahnya menghadapi harga kedua jenis bawang itu yang semakin mahal saja.

Pedagang bawang Merah di Pasar Induk Tanah Tinggi - Tangerang

Ratmono dari pengurus asosiasi petani Bawang Merah Brebes juga sama khawatirnya, namun dalam konteks yang berbeda. Ratmono dkk khawatir situasi mahalnya harga bawang merah ini bisa menjadi “alat atau alasan” keluarnya rekomendasi import bagi para importer. Selain Ratmono dari Brebes, Anto dari Nganjuk, Imam dari Probolinggo dan petani bawang dari Madura dan NTB juga khawatir akan masuknya bawang merah import dibulan-bulan Maret – April hingga beberapa bulan kedepan. Kekhawatiran para petani terhadap produk bawang merah import ini memang dapat dipahami, karena kalau pada bulan Meret ini ijin import keluar, lalu Bawang import masuk setengah bulan kemudian, maka itu dapat “menghancurkan” harga Bawang merah petani yang akan panen mulai Maret hingga bulan selanjutnya.

Saat ini disentra-sentra Bawang merah nasional para petani sebentar lagi panen. Di Nganjuk pada Maret ini akan panen sekitar 250 ha, Probolinggo 268 ha, Brebes sekitar 10 ha. Sementara itu ditambah dengan 10 daerah penghasil bawang merah lainnya di Indonesia, luas panen Bawang merah pada Maret - April ini dapat mencapai luasan 1.500 ha. Dengan rata-rata produksi sekitar 14 ton/ha, maka pada awal April akan ada pasokan kepasar sekitar 21.000 ton. Perlu diketahui bahwa kebutuhan bawang merah nasional perbulan diberbagai sentra konsumen adalah sebesar 25.500 ton/bulan. Setelah itu, tanaman yang saat ini berumur kurang dari 15 - 25 hari ada sekitar 1.700 ha. Berdasarkan pantauan disentra Bawang merah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, saat ini banyak petani yang mulai mempersiapkan tanahnya untuk ditanami Bawang merah pada bulan April dan Mei. Hal itu agaknya banyak dipengaruhi oleh adanya harga yang saat ini sangat tinggi itu. Untuk selanjutnya, penanaman Bawang merah akan memasuki musimnya pada bulan Juni hingga Oktober. Saat itu luas tanam bisa mencapai 45.000 ha lebih. Dengan angka itu maka diprediksi harga Bawang merah yang saat ini mahal, dalam sebulan kedepan diprediksi sudah akan mulai turun ketingkat harga wajar. Penurunan itu bias berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya. Dengan begitu banyak petani berharap saat ini pemerintah tidak mengeluarkan ijin import Bawang Merah. Kalau saat ini harga Bawang Merah “mahal”, maka hal ini hanya bersifat sementara dan para konsumen diharapkan bersabar untuk beberapa minggu mendatang.

Namun melihat perkembangan harga yang terus meningkat yang keresahan konsumen dibeberapa daerah, kalau terpaksanya import dilakukan, maka quotanya antara 5.000 – 10.000 ton dalam bulan April. Pertimbangannya adalah agar cepat mampu menurunkan harga bawang merah yang saat ini dipasar eceran sudah mencapai Rp.40.000,-/kg. Bahkan dibeberapa kota seperti Purwokerto – Jatenag telah mencapai Rp50.000,-/kg. Pertimbangan lainnya adalah, kemungkinan adanya kurangnya produksi akibat gangguan hama/penyakit, dan sekitar 30% produk dipasarkan disekitar daerah produsen atau pasar lokal lain secara langsung.

Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah pertama, upaya menjaga adanya keseimbangan distribusi ketiap daerah sesuai dengan kebutuhan konsumen. Daerah-daerah yang ada di Jawa, yang berdekatan dengan sentra produksi tentu akan lebih mudah mengaturnya sehingga harga akan cepat menjadi “normal” atau wajar. Namun untuk daerah diluar Jawa yang bukan penghasil Bawang merah tentu diperlukan waktu lebih lama dan biaya distribusi lebih mahal sehingga harga eceran dikonsumen tentu akan sedikit lebih tinggi dibanding harga di Jawa. Kedua adalah pengaturan pola tanam dan pola panen disentra produksi dan pembukaan lahan baru potensial diluar lahan yang ada. Saat ini harus mulai ditemukan teknologi budidaya “off season” sehingga tidak terjadi “paceklik berat” seperti yang terjadi saat ini. Untuk hal teknologi itu, agaknya peran lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan milik pemerintah, perguruan tinggi atau lainnya perlu beperan lebih aktif dan cepat. Ketiga adalah adanya pengaturan system distribusi secara nasional.

Pola dan mekanisme distribusi produk pangan, termasuk Bawang merah sampai saat ini agaknya belum berjalan dengan baik sehingga sering terjadi disparitas harga antar daerah yang cukup tajam, termasuk komoditas Bawang merah. Untuk itu, perlu dibuat sebuah sistem logisting nasional yang mampu mengatur distribusi produk pangan sehingga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan disetiap daerah. Dengan begitu, produsen dan konsumen akan menerima harga yang wajar. Dengan begitu Ibu Erika, Ibu Inti dan ibu-ibu yang lain akan tersenyum setiap hari.


KEBUTUHAN BAWANG MERAH NASIONAL
BERDASARKAN SURVEY KE PASAR - PASAR INDUK DI INDONESIA
DAN DATA PENGIRIMAN

Sumber : Devisi Pemasaran Asosiasi Bawang Merah Indonesia 2012

Ketakutan terhadap produk import oleh para produsen, termasuk petani Bawang Merah ini, sebenarnya perlu menjadi pelajaran tersendiri. Saat ini pemerintah masih bisa melakukan berbagai pembatasan terhadap produk import. Tetapi mulai 2015 nanti, saat perdagangan bebas asis berlaku, lalau produk import masuk sebagai pesaing bebas, petani harus mampu menghadapinya. Produk import yang saat ini “ditakuti” petani itu kenyataannya disukai konsumen, karena produknya lebih baik dengan harga yang kadang lebih murah. Kalau harganya lebih mahal, produk import itu mutunya lebih baik sehingga konsumen dengan sukahati membayarnya. Untuk itu produsen pertanian dalam negri harus meningkatkan mutu produknya dengan teknologi lebih baik dan efisien sehingga mampu bersaing dipasar.

Jakarta, 11 Maret 2013
Soekam Parwadi

kembali «

print
  • Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan - Revitalisasi pertanian & Perbaikan Jaringan Pemasaran Produk Pertanian
    Strategi Pencapaian Kedaulatan Pangan
    BACA SELANJUTNYA
  • Kobis, Porang dan Industry Kreatif
    PASKOMNAS - Kobis. Awal Juni lalu, Kobis dari China masuk pasar induk di Jakarta dan Tangerang menyusul “temannya” si Bawang Putih, wortel, Jeruk Pongkam, Apel, Peer dan lainnya yang sudah mapan dipasar Indonesia. Seperti komoditi pendahulunya, kobis krop China masuk dengan penampilan cantik dan harga yang lebih murah dari Kobis krop Pengalengan, Dieng, Bromo atau Brastagi. Tentu saja dalam waktu sekejab kobis import itu habis dan pembeli grosir berharap kobis yang dibungkus tissue itu datang lagi, sokor tiap hari, karena kobis merupakan makanan harian masyarakat. Benar, kobis memang salah satu jenis sayur banyak dikonsumsi rakyat hingga selebriti sehari-hari.Cepat habisnya kobis China dipasar itu penyebabnya jelas, yaitu karena mutu barangnya lebih baik dari kobis domestik dan harganya lebih murah. Waktu itu harga jual kobis Pengalengan dan Dieng dipasar induk Tanahtinggi – Tangerang Rp2.200,-, kobis Medan Rp3.000,- dan kobis China hanya dijual Rp1.800,-/kg. Ada dua hal yang menarik dari masuknya kobis China ke Indonesia itu.Pertama, Semua orang terkagum dengan harga kobis China itu sambil bertanya-tanya antar teman ngobrol dipasar.Perjalanan kobis dari China ke Jakarta memakan waktu hampir enam hari, tentu biayanya lebih mahal dibanding dari Medan ke Jakarta.Setelah dikurangi ongkos angkut, biaya kemasan, laba pedagang, bea masuk Indonesia dan laba petani, berapa harga pokok kobis itu dari petani di China sana. Kedua, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masuknya kobis murah tersebut kenegara kita. Tidah ada yang mampu menjawabnya.Semua menerawang dengan bayangannya sendiri, termasuk para pemasok kobis dari Dieng dan Medan yang mebayangkan, sampai kapan mereka masih dapat memasok kobis kepasar induk kalau barang import murah itu masuk terus.Sementara saya berfikir, inilah awal dari “habisnya usaha agribisnis Nusantara”.Nanti orang Dieng, Pengalengan dan lainnya dinegri kita tetap menanam kobis, tetapi hanya untuk dimakan sendiri – pertanian subsisten.Perlu diketahui, produksi Kobis nasional kita saat ini 1,487 juta ton/tahun dan kebutuhan konsumen 1,368 juta ton/tahun. Kita surplus, tetapi ada import, kasusnya sama dengan Bawang Merah dan Cabe atau Kentang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pasar Sebagai “Panglima”
    PASKOMNAS - Beberapa hari terakhir ini, kami selaku pengampu Direktorat Pengembangan Agribisnis – Paskomnas Indonesia, sering ditugaskan untuk memenuhi undangan beberapa kementerian dan beberapa daerah provinsi atau kabupaten. Paling sering adalah Kementerian Pertanian. Namun belakangan yang cukup “agresif” adalah Kementerian Dalam Negri – khususnya Dirjen PMD dan Kementerian Pembangunan Daerah Tetinggal (KPDT) dari Deputi Bidang Pembinaan Ekonomi dan Dunia Usaha. Kementerian Perdagangan kadang mengundang kalau ada harga bahan pangan yang ekstrim tinggi. Kalau harga ekstrim rendah yang merugikan petani jarang mengundang, bahkan teleponpun tidak. Kementerian Koperasi - melalui Dinas-dinasnya diprovinsi - juga sering mengundang Paskomnas untuk diajak mengaktifkan KUD dan Koperasi pertanian yang sudah lama mati-suri. Dalam pertemuan tingkat nasional yang biasanya dihadiri dari perwakilan daerah dikementerian masing-masing itu, Paskomnas diminta berperan dalam “mengobati masalah” – yang biasanya sudah stadia parah – yaitu tentang pemasaran hasil pertanian. Jenis masalah yang paling banyak adalah “harga jatuh” dan petani kesulitan memasarkan hasilnya. Dari beberapa kali pertemuan itu, agaknya para pengundang dan peserta pertemuan berharap Paskomnas dapat mengobati segera “penyakit akut harga jatuh” yang sudah sering kambuh itu. Kecuali dari Kemendag, yang biasanya mengundang atau menghubungi kami saat terjadi “harga ekstrim tinggi”. Kemendag ingin Paskomnas dapat dengan segera ikut berperan mengatasi harga ekstrim tinggi itu, sehingga konsumen segera senang kembali. Pokoknya semua kepengin dua penyakit kambuhan pemasaran hasil pertanian di Indonesia itu segera dapat diobati sehingga petani senang, konsumen senang dan para pejabat publikpun senang.
    BACA SELANJUTNYA
  • Pokok-pokok pikiran -- Revitalisasi pertanian dan pembangunan system distribusi produk pertanian menuju Kedaulatan Pangan dalam 5 tahun kedepan
    Pokok-pokok pikiran
    BACA SELANJUTNYA

 

Berita Terkait

Lihat Berita Sebelumnya «

Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 494899 kali | webmail | Disclaimer | Peta Situs
Perubahan terakhir pada: 19 Desember 2014
powered by Red Colibri