Pasar Komoditi Nasional

Gambaran Umum Pangan Dunia

kata kunci: Gambaran Umum Pangan Dunia

Sumber Berita: www.scribd.com/doc/61418172/Nuhfil 
Oleh: Indra Wafa

Terdapat 3 (tiga) hal yang menjadi sebab mengapa masalah ketahanan pangan perlu diperbincangkan. Pertama, bahwa pangan adalah hak azasi manusia yang didasarkan atas 4 (empat) hal berikut:

  1. Universal Declaration of Human Right (1948) dan The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (1966) yang menyebutkan bahwa “everyone should have an adequate standard of living, including adequate food, cloothing, and housing and that the fundamental right to freedom from hunger and malnutrition”.
  2. Rome Declaration on World Food Security and World Food Summit 1996 yang ditanda tangani oleh 112 kepala negara atau penjabat tinggi dari 186 negara peserta, dimana Indonesia menjadi salah satu di antara penandatangannya. Isinya adalah pemberian tekanan pada human right to adequate food (hak atas pemenuhan kebutuhan pangan secara cukup), dan perlunya aksi bersama antar negara untuk mengurangi kelaparan.
  3. Millenium Development Goals (MDGs) menegaskan bahwa tahun 2015 setiap negara teramsuk Indonesia menyepakati menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuhnya. 
  4. Hari Pangan Sedunia tahun 2007 menekankan pentingnya pemenuhan Hak Atas Pangan. 

Kedua, kondisi obyektif Indonesia masih berkutat pada masalah gizi. Masalah gizi tersebut berakar pada masalah ketersediaan, distribusi, keterjangkauan pangan, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan serta perilaku masyarakat. Dengan demikian masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Selain itu, jumlah penduduk Indonesia yang besar dan tersebar dalam bebagai wilayah memerlukan penanganan ketahanan pangan yang terpadu. Penanganan ketahanan pangan dimaksud memerlukan perencanaan lintas sektor dan dengan sasaran serta tahapan yang jelas dan terukur dalam jangka menengah maupun panjang.

Ketiga, perubahan kondisi global yang menuntut kemandirian. Perubahan dimaksud tercermin dari: harga pangan internasional yang mengalami lonjakan drastis dan tidak menentu, adanya kecenderungan negara-negara yang bersikap egois; mementingkan kebutuhannya sendiri, adanya kompetisi penggunaan komoditas pertanian (pangan vs pakan vs energi), terjadinya resesi ekonomi global, dan adanya serbuan pangan asing (“westernisasi diet”). Perubahan kondisi global tersebut sangat berpotensi menjadi penyebab gizi lebih dan meningkatkan ketergantungan pada impor.

Memperbincangkan masalah pangan tidak dapat dipisahkan dari masalah harga pangan sebagai salah satu aspek yang mencerminkan ketersediaan atau produksi pangan sekaligus permintaan atau konsumsi pangan. Perkembangan harga beberapa komoditas pangan dunia, yaitu: jagung, gandum dan beras, mulai bulan Januari 2003 sampai dengan bulan Juli 2008 ditunjukkan melalui gambar 1.

Gambaran Umum Pangan Dunia 1

Gambar 1. Perkembangan Harga Pangan Dunia
(As of September 2008)
Source: Data from FAO 2008 and IMF 2008.

Berdasarkan gambar 1, tingkat harga pangan yang terdiri dari: jagung, gandum dan beras memiliki kecenderungan yang semakin meningkat. Peningkatan harga pangan tersebut cukup drastis pada bulan Juli 2008. Di antara harga bahan pangan, harga beras umumnya lebih tinggi (lebih mahal) dibandingkan dua bahan pangan lainnya. Bahkan kenaikan harga beras pada bulan Juli 2008 melebihi kenaikan harga minyak. Hal ini mengindikasikan adanya ketergantungan dunia terhadap beras yang semakin besar: peningkatan konsumsi beras yang relatif lebih tinggi dibandingkan ketersediaannya.

Peningkatan harga bahan pangan tidak hanya mengindikasikan ketergantungan terhadap beras yang semakin besar tetapi lebih lanjut juga mencerminkan kenaikan tingkat konsumsi pangan yang melebihi ketersediaannya. Secara umum, dalam dua dasa warsa terakhir, rasio atau perbandingan cadangan pangan dunia terhadap penggunaan atau konsumsi pangan dunia semakin menurun. Perkembangan rasio tersebut ditunjukkan melalui gambar 2.

GAMBARAN UMUM PANGAN DUNIA 2

Gambar 2. Stok Pangan Dunia Menurun
Source: United Nations World Food Programme,2008

Gambar 2 menunjukkan bahwa rasio stok terhadap konsumsi pangan dunia mendekati 15% pada tahun 2008/2009 dari di atas 35% pada tahun 1986/1987. Pada periode tersebut, cadangan pangan dunia semakin menurun atau (dengan kata lain) jumlah penduduk dunia yang dijamin pangannya semakin sedikit. Penurunan rasio tersebut disebabkan tidak adanya kenaikan dalam produksi pangan sementara jumlah penduduk dunia selalu bertambah dari tahun ke tahun. Jumlah produksi pangan dunia yang terdiri dari: gandum, beras dan butiran lainnya sejak 1999 sampai dengan 2007 ditunjukkan dalam gambar 3. 

gambaran umum pangan dunia 3

Gambar 3. Produksi Pangan Dunia Tidak Meningkat
Source: Data from FAO 2003, 2005-07.

Gambar 3 menunjukkan bahwa jumlah produksi gandum, beras dan butiran lainnya hampir tidak meningkat sepanjang 1999 sampai dengan 2007. Pada periode tersebut, produksi beras tidak meningkat dan produksi gandum meningkat hanya sedikit. Komoditas yang mengalami peningkatan dalam jumlah produksi adalah butiran lainnya. Hal ini berarti bahwa cadangan pangan dunia lebih banyak disokong dari produksi butiran dibandingkan dengan gandum dan beras. Lebih lanjut, penduduk dunia yang dijamin oleh cadangan pangan (dalam jumlah kecil) adalah mereka yang bergantung pada butiran sebagai makanan pokok. Sedangkan mereka yang bergantung pada gandum dan beras sebagai makanan pokok tidak dijamin oleh cadangan. Cadangan atau stok pangan dunia diperkirakan berupa komodidas selain gandum dan beras.

Minimnya cadangan pangan dunia berpotensi menyebabkan krisis pangan di beberapa kawasan. Negara-negara yang berisiko mengalami krisis pangan ditunjukkan dalam gambar 4 sebagaimana yang telah disinyalir oleh Perserikatan Bangsa Bangsa pada tahun 2008.

gambaran umum pangan dunia 4

Gambar 4. Negara Berisiko Terkena Krisis Pangan Dunia
Source: United Nations World Food Programme,2008.

Negara-negara yang berisiko tinggi mengalami krisis pangan sebagian besar berada kawasan di Asia Selatan dan beberapa negara di Asia Timur serta satu negara di Asia Tenggara dan Amerika Latin. Kawasan tersebut juga menjadi tempat negara-negara berisiko sedang mengalami krisis pangan. Selain itu, kawasan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) juga berisiko mengalami krisis pangan sedang. 

Secara lebih jelas, ketersediaan atau produksi pangan dan permintaan atau konsumsi pangan, dapat disampaikan bahwa kondisi pangan dunia diperkirakan akan mengalami ketidak seimbangan pada waktu-waktu mendatang. Ketidak seimbangan tersebut dikarenakan jumlah permintaan akan pangan yang melebihi jumlah produksinya. Perkiraan neraca pangan dunia tahun 2025 ditunjukkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Perkiraan Neraca Pangan Dunia 2025

RegionPopulation 2025Consumption/ CapitaDemand 2025Production 2025Balance 2025
South Asia2021237549.7524.6-25.1
East and Southeast Asia23873381040.9914.0-126.9
Latin America690265217.9171.2-46.7
Europe799634506.5619.4112.9
North America410780319.5558.2238.7
World80393633046.52977.7-68.8

Source: www.worldbank.org

Berdasarkan perkiraan neraca pangan dunia 2025, diperkirakan akan terjadi ketidak seimbangan (krisis) pangan dunia dimana jumlah permintaan atau konsumsi pangan melebihi jumlah ketersediaan atau produksi pangan. Surplus pangan dan minus pangan yang terjadi di beberapa daerah akan menyebabkan terjadinya aliran pangan dari negara-negara surplus pangan di Eropa dan Amerika Utara ke arah negara-negara minus pangan di Asia Selatan, Asia Timur dan Asia tenggara, serta Amerika Latin. Perkiraan krisis pangan tersebut menyebabkan beberapa negara mengambil tindakan kebijakan untuk melindungi produksi serta menjamin ketersediaan pangan di dalam negeri.

Beberapa kebijakan yang ditempuh beberapa negara terkait dengan perlindungan terhadap produksi dalam negeri dan jaminan ketersediaan pangan, antara lain: restriksi perdagangan, liberalisasi perdagangan, subsidi konsumen, perlindungan sosial dan kebijakan peningkatan produksi atau penawaran. Berbagai kebijakan perlindungan pangan yang ditempuh beberapa negara adalah sebagaimana yang ditunjukkan tabel 2.

Tabel 2. Kebijakan Perlindungan Pangan yang Ditempuh Beberapa Negara

RegionTrade Restriction   Trade Liberaliz   Consumer Subsidy   Social Protection   Increase Supply   
Asia
Bangladesh X  X X X
China X X X  X
India X X X X X
Indonesia X X X X 
Malaysia X  X  X
Thailand X  X  X
Latin America
Argentina X X X  X
Brazil X X   X
Mexico  X X  X
Peru  X X X 
Venezuela  X X X X
Africa
Egypt X  X X X
Ethiopia X  X X X
Ghana  X   X
Kenya     X
Nigeria  X X  X
Tanzania X X X  

Source: IMF, FAO, and news reports, 2007-08.

Tabel 2 menunjukkan bahwa kebijakan subsidi konsumen dan peningkatan produksi merupakan kebijakan yang paling populer dilaksanakan. Nampaknya, harga jual pangan yang cukup tinggi diharapkan menjadi daya tarik bari petani untuk memproduksi pangan dalam jumlah yang lebih banyak. Pada sisi lain, subsidi konsumen ditujukan untuk mengurangi beban konsumen karena harga pangan yang tinggi. Dua kebijakan yang dilaksanakan secara serentak tersebut, didukung dengan kebijakan restriksi perdagangan dan perlindungan sosial diperkirakan dapat memacu pertumbuhan produksi pangan di dalam negeri lebih tinggi. Namun demikian, kebijakan liberalisasi perdagangan yang diupayakan oleh negara-negara yang memiliki proses produksi pangan efisien dapat menjadi kemandirian pangan di negara-negara dengan proses produksi tidak efisien. Efisiensi berarti harga jual produk lebih rendah yang menyebabkan petani-petani dengan proses produksi tidak efisien enggan berproduksi karena outputnya tidak laku di pasar (internasional).

Khusus Indonesia, produksi bahan pangan yang terdiri dari: padi, jagung dan ubi kayu meningkat selama 2003 sampai dengan 2008. Pertumbuhan rata-rata komoditas tersebut masing-masing 0,47%; 1,12% dan 0,39% per tahun selama periode tersebut. Akan tetapi, untuk bahan pangan ubi jalar mengalami penurunan selama periode yang sama. Perkembangan produksi pangan tersebut beserta produksi bahan nabati lainnya ditunjukkan dalam gambar 5.

gambaran umum pangan dunia 5

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

Produksi ubi jalar mengalami penurunan (pertumbuhan negatif) rata-rata 0,14% per tahun selama 2003 sampai dengan 2008. Berbeda dengan ubi jalar, produk pangan nabati lainnya, yaitu: kedelai, kacang tanah, sayur, buah-buahan, minyak sawit dan gula putih mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 0,44% sampai 3,78% per tahun dalam periode tersebut. Begitu juga produk pangan hewani, yaitu: daging sapi dan kerbau, daging ayam, telur, susu dan ikan, produksinya meningkat antara 0,68% sampai 4,04% per tahun sepanjang 2003 sampai dengan 2008.

gambaran umum pangan dunia 6

Gambar 6. Produksi Pangan Hewani Indonesia

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

Berdasarkan produksi nabati dan hewani sebagaimana diutarakan di atas, Indonesia memiliki ketersediaan pangan yang semakin banyak dari tahun ke tahun. Namun demikian, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (http://demografi.bps.go.id) laju pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata 1,49% per tahun selama 1990 sampai dengan 2000 dan rata-rata 1,31% per tahun selama 2000 sampai dengan 2005. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2005 sebesar 218.868.791 Jiwa dan diperkirakan menjadi 227.516.121 Jiwa pada tahun 2008. Dengan jumlah produksi padi 54.151.000 Ton di tahun 2005, maka rasio antara jumlah produksi padi terhadap jumlah penduduk pada tahun 2005 adalah 247,4 Kg/Kapita/Tahun atau 0,7 Kg/Kapita/Hari. Pada tahun 2008, dengan jumlah produksi padi sebesar 59.877.000 Ton maka rasio tersebut menjadi 263,2 Kg/Kapita/Tahun atau 0,7 Kg/Kapita/Hari. Perhitungan ini menjukkan bahwa sebenarnya ketersediaan beras di Indonesia sampai dengan 2008 masih memadai. Namun demikian, oleh karena semakin banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan-lahan lain (perumahan, bisnis, dan lain-lain) menyebabkan rasio tersebut menjadi terganggu.

Terganggunya rasio antara jumlah produksi padi terhadap jumlah penduduk sebagaimana diutarakan di atas menyebabkan, pada tahun-tahun terakhir, Indonesia tergantung pada impor. Bahan pangan yang di impor Indonesia, yaitu: beras, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, sayur, buah-buahan, minyak goreng, gula, daging sapi dan daging kerbau, daging ayam, telur, susu dan ikan, selama tahun 2003 sampai dengan 2007 ditunjukkan pada gambar 7.

gambaran umum pangan dunia 7

Gambar 7. Ketergantungan Impor Pangan di Indonesia

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

Berdasarkan gambar 7, impor kedelai merupakan bagian terbesar dari ketersediaan kedelai di dalam negeri. Pada tahun 2007, sebesar 70,6% kebutuhan kedelai dipenuhi dari impor, sebagian kecil sisanya, yaitu: 29,4% berasal dari produksi dalam negeri. Hal ini menunjukkan ketergantungan Indonesia yang sangat besar terhadap impor kedelai. Selain kedelai, susu juga merupakan produk yang banyak dipenuhi dari pasar internasional. Impor susu pada tahun 2007 merupakan 66,7% dari kebutuhan susu. Persentase ini menurun dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun 2003, yaitu sebesar 93,89%.

Komoditas ubi kayu, ubi jalar, buah-buahan, minyak goreng, daging ayam dan telur, seluruhnya atau hampir seluruhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Untuk bahan makanan pokok masyarakat, yaitu: beras dan jagung, besarnya persentase impor masih relatif kecil, yakni masing-masing 4,12% dan 5,52% pada tahun 2007. Sebagian besar, yaitu masing-masing 95,88% dan 94,48% kebutuhan masyarakat akan beras dan jagung dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Berdasarkan data impor beras dan umbi-umbian, dapat diketahui bahwa upaya untuk meminimumkan atau menghilang ketergantungan terhadap impor beras dapat dilakukan melalui diversifikasi pangan dari beras ke ubi kayu dan ubi jalar. Mengingat bahwa sebagian masyarakat Indonesia sudah mengenal bahkan terbiasa dengan makan ubi kayu dan ubi jalar, maka diversifikasi tersebut diharapkan tidak mengalami hambatan yang berarti.

gambaran umum pangan dunia 8

Gambar 7. Ketersediaan Pangan per Kapita
Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

Terjadinya diversifikasi pangan dari beras ke bahan pangan lain tercermin dari perubahan pola konsumsi penduduk atas berbagai jenis bahan pangan. Secara umum, penurunan jumlah konsumsi beras di satu sisi dan kenaikan konsumsi bahan pangan lainnya di sisi lain menunjukkan adanya diversifikasi pangan yang tengah berlangsung. Jumlah konsumsi beras, jagung dan terigu selama tahun 1993 sampai dengan 2007 ditunjukkan pada gambar 8.

gambaran umum 9

Gambar 8. Perkembangan Konsumsi Komoditas Pangan
Kelompok Padi-padian Penduduk Indonesia 1993-2007

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

Berdasarkan gambar 8, selama tahun 1993 sampai dengan 2007, konsumsi penduduk terhadap beras mengalami penurunan. Namun demikian, penurunan dimaksud tidak dibarengi dengan kenaikan konsumsi jagung dan terigu. Hal ini berarti bahwa diversifikasi pangan dari beras ke jagung dan terigu masih belum terjadi. Agak berbeda dengan konsumsi penduduk terhadap produk pangan nabati, konsumsi penduduk terhadap produk pangan hewani sebagian mengalami peningkatan, khususnya untuk produk ikan, telur dan yang paling banyak terjadi kenaikan adalah konsumsi terhadap susu. Perkembangan konsumsi pangan hewani penduduk tahun 1993 sampai dengan 2007 ditunjukkan dalam gambar 8.

gambaran umum pangan dunia 10

Gambar 8. Perkembangan Konsumsi Pangan Hewani
Penduduk Indonesia 1993-2007

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

Berdasarkan gambar 8, dimana konsumsi pangan hewani penduduk

gambaran umum pangan dunia 11

Gambar 9. Pola Pangan Harapan

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009

gambaran umum pangan dunia 12

Gambar 10. Keamanan Pangan

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

gambaran umum pangan dunia 13

Gambar 10. Status Gizi Masyarakat

Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015, Makalah Workshop II Ketahanan Pangan di Jawa Timur, 2009.

kembali «

print
Hak Cipta © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Dikunjungi: 380428 kali | webmail | Disclaimer
Perubahan terakhir pada: 10 Maret 2014
powered by Red Colibri