Pasar Komoditi Nasional

QUESTION:

Pertanyaan seputar Budidaya Cabe

  1. ”Ass.. Pak sukam.. mau tanya tentang budidaya cabai yang bgus bagaimana.. Dari buat benih, cara tanam, penjagaan daun, bunga buah supaya subur tdk rontok. Demikian terima kasih.”
    Pujo dari Pati – Jawa Tengah
     
  2. ”Pak Soekam, mau tnya cra penaman lombok, perawat dan tanaman apa yg bisa jadi penangkal hama.”
    Samadun - Blora
     
  3. ”Mau nanya masalah tanaman cabe, dr tanam sampai habis pemupukanya berapa kali. Menggunakan pupuk apa, selain kno.” 
    Mahfud – Ungaran Jawa Tengah

ANSWER:

Pertanyaan Anda ini simpel tetapi menyeluruh. Dibawah ini akan saya berikan salah satu model atau paket teknologi budidaya cabe singkat tetapi lengkap. Silahkan Anda mempelajari dan mungkin ”memodifikasi” sesuai dengan sumberdaya yang Anda kuasai.

Mengenal Cabe
Cabai (Capsicum annum) atau “cabe” merupakan satu dari 40 jenis lebih sayuran yang paling popular di Indonesia. Selain mungkin karena rasa pedasnya itu, cabe banyak disukai oleh konsumen untuk membuat berbagai resep masakan yang memerlukan rasa tajam atau kehangatan. Karena itu merupakan komoditas sayuran yang banyak mendapat perhatian karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kebutuhan akan cabai terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai.

Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni cabe besar, cabe keriting, cabe rawit dan paprika. Secara umum cabe memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidrat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabe juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industri makanan dan industri obat-obatan atau jamu.

Peluang bisnis.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia, kebutuhan cabe baik untuk rumah tangga maupun industri semakin meningkat untuk waktu yang akan datang, sehingga peluang pengembangan usaha agribisnis cabe sangat terbuka luas.

Usaha peningkatan produksi cabe yang sekaligus meningkatkan pendapatan petani, harus dilakukan kegiatan budidaya sampai penanganan pasca panen dengan baik dan benar. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan budidaya cabe adalah penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan kedisiplinan berbudidaya.

Saat pemasaran hasil pertanian telah memasuki mekanisme pasar, maka harganya sangat dipengaruhi oleh imbangan permintaan dan penawaran suatu produk kepasar. Saat permintaan meningkat – sementara pasokan kepasar tetap atau menurun, harga akan naik. Sebaliknya, apabila permintaan menurun, pasokan dipasar tetap atau naik, maka harga akan turun. Naik turunnya pasokan hasil pertanian (cabe) kepasar sangat dipengaruhi oleh musim, keberhasilan panen, perencanaan antar daerah yang kurang matang, masuknya barang dari luar (import). Sementara itu naik turunnya permintaan konsumen sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi masyarakat & daya beli, tingkat kebutuhan & kesukaan masyarakat, gaya hidup & adanya barang pengganti.

Adanya perdagangan bebas China – ASEAN (ACFTA), tantangan ber-agribisnis membutuhkan kerja lebih cerdas – keras – dinamis.

Jenis Cabe
Saat ini telah banyak benih cabe hibrida yang beredar di pasaran dengan nama varietas yang beraneka ragam dengan berbagai keunggulan yang dimiliki. Sebagian besar jenis cabe disediakan oleh perusahaan swasta, diantaranya adalah :

  • PT. TANINDO SUBUR PRIMA dengan beberapa jenis cabe hibrida (F1). Cabe hibrida besar adalah Jet set, Arimbi, Buana 07, Somrak, Elegance 081, Horison 2089, Imperial 308 dan Emerald 2078. Jenis cabe hibrida keriting diantaranya, Papirus, CTH 01, Kunthi 01, Sigma, Flash 03, Princess 06 dan Helix 036. Jenis cabe rawit hibrida adalah Discovery.
  • PT East West Seed Indonesia (terkenal dengan sebutan Panah Merah). Cabe besarnya : Wibawa-F1, Astina F1, Provost F1, Senopati F1, Sultan F1, Gada F1, Prabu F1. Cabe Kriting : Tanamo F1, Bagayo F1, Lado F1, Taro F1, Laris. Cabe Rawit : Dewata F1, Bara, Taruna, Pelita F1.
  • Known You Seed, memiliki berbagai jenis pula. Cabe besar hibrida F1: Peace star 418, New Comer 405, Group Star 461, Group Zest 1447, Passion 451, Beauty Zest, Long Chili 455, Hero 459, Ever Flafor 462, Miles Flafor 1289, Golden Heat 456, Hot Beauty 457, Chain Flavor 1291, Home Flavor 1290 dan Ccain Fair 460. Untuk paprika : Yellow star, Lady Star, Big Star, Virgo, Blue Star, Vega, Sunny Strar, Beauty Star dan Neptune. 
  • Beberapa jenis cabe local yang bukan hibrida banyak dikembangkan oleh para petani di sekitar Brebes, Bantul, Banyuwangi dengan jenis Tampar malam dan lainnya.

Syarat Tumbuh

Syarat iklim.

  1. Tinggi Tempat, tanaman cabai pada umumnya dapat tumbuh dengan baik pada lahan didataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian hingga 2000 meter dari permukan laut (DPL). Namun setiap jenis cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Misalnya, cabai hibrida Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1200 m dpl. Sedangkan cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam pada ketinggian antara 800 - 1500 m dpl. Sementara itu khusus untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam di dataran tinggi.
     
  2. Suhu/temperature udara, temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 - 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 - 230 C. Khusus untuk paprika, temperatur optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman paprika antara 210 - 250 C. Sedangkan untuk pembentukan buahnya memerlukan temperatur 18,30C. 

  3. Paprika juga tidak tahan terhadap intensitas cahaya matahari yang tinggi karena dapat menyebabkan buah seperti terbakar (sunburn) dan juga berpengaruh menurunkan berat buah. Apabila kondisi lingkungan yang tidak seperti yang diterangkan diatas, tanaman paprika akan mengalami gugur tunas, gugur bunga dan buah muda, serta ukuran buah sangat kecil. Meskipun cabai paprika umumnya cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi dapat pula dikembangkan di dataran menengah mulai ketinggian 600 m dpl, tetapi harus ada usaha khusus mengatur lingkungan, seperti pengurangan sinar matahari dan menurunkan suhu. Untuk itu perlu penanaman alam ruangan atau green-house atau menggunakan sungkup beratapkan plastik ultra violet yang trasparan.

Syarat Tanah

  1. Keadaan tanah, tanaman cabai dapat ditanam dihampir semua jenis tanah. Untuk mendapatkan produksi dan mutu hasil yang tinggi, tanaman cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (tuntas), bebas cacing (nematoda) dan penyakit yang menular lewat tanah(soil borne). Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan sudut kemiringan lahan 0 sampai 10 derajat serta membutuhkan sinar matahari penuh dan tidak ternaungi.

  2. Keasaman atau pH tanah, pH tanah yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabe adalah antara 5,5 – 6,8. Pada pH di bawah 5,5 atau di atas 6.8 akan menyebabkan perkembangan tanaman terganggu dan menghasilkan produksi yang rendah. Pada tanah-tanah yang becek seringkali menyebabkan gugur daun dan mudah terserang penyakit layu bakteri. Untuk mengatasi rendahnya pH di bawah 5,5 (asam), dapat diperbaiki dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik mendekati pH yang disyaratkan. Pada umumnya sangat jarang tanah pertanian di Jawa yang memiliki pH tanah lebih dari 6,8, kecuali daerah yang berkapur/tanah kapur. 

  3. Pengaruh keasaman tanah. Pada tanah asam (pH kurang dari 6,0), ketersediaan unsur-unsur Fosfor (P), Kalium (K), Belerang (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Molibdinum (Mo) akan menurun dengan cepat. Karena unsur-unsur tersebut, kecuali Mo, adalah unsure pokok (makro) yang dibutuhkan tanaman, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Cabai yang ditanam pada tanah asam pada umumnya keracunan unsur Alumunium (Al), Besi (Fe) dan Mangan (Mn). Pada tanah basa (pH lebih dari 7,0) akan menyebabkan unsur-unsur Nitrogen (N), Besi (Fe), Mangan (Mn), Borium (Bo), Tembaga (Pb) dan Seng (Zn) ketersediaannya relatif menjadi sedikit. Pada pH basa, jumlah unsur bikarbonat cukup banyak untuk merintangi penyerapan ion lain, sehingga dapat menghalangi pertumbuhan tanaman secara nyata.

  4. Kondisi air. Walau air sangat diperlukan oleh tanaman cabe dalam jumlah yang cukup. Tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri. Jika kekurangan air tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu dan mati. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan.

Teknik Budidaya
Pembuatan bibit/pesemaian.

  1. Pesemaian dibuat untuk menyiapkan bibit tanaman yang sehat, kuat dan seragam sebagai bahan tanam di lapangan. Media semai yang dipergunakan hendaknya mempunyai struktur yang remah, tidak menahan air dan cukup nutrisi. Beberapa tanah yang dianjurkan untuk pesemaian sebaiknya diambil dari bawah rumpun bambu, tanah bagian bawah yang bersih dari gulma. Bahan yang dapat digunakan adalah campuran kompos, tanah, dan pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Untuk menambahkan nutrisi dapat diberikan pupuk Saprodap putih 16-20-0-12S, Saprodap abu-abu 12-14-0-10S atau NPK 15-15-15 sebanyak 80-100 gram yang telah dihaluskan untuk tiap 3 ember campuran bahan tersebut.

  2. Setelah bahan tercampur, bahan dimasukkan pada kantung plastik dengan ukuran 8 x 9 cm sampai 90 % penuh, dan dibuat lubang pembuangan air pada plastik bagian bawah yang telah terisi media. Media diatur pada bedeng semai yang telah disiapkan. Bedeng semai dibuat dengan tinggi 20 – 50 cm dengan lebar 80 – 100 cm dan panjang menyesuaikan kondisi. Arah bedengan diatur membujur utara selatan dengan memberikan atap penutup dari plastik dengan tiang penyangga bagian timur 100 cm dan bagian barat 80 cm, atau atap dapat dibuat dengan model ½ lingkaran atau sungkup. Hal ini dimaksudkan agar bibit yang tumbuh cukup mendapatkan sinar matahari sehingga tidak mengalami pemanjangan ruas (etiolasi).

  3. Setelah media selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah pemeraman benih dengan tujuan untuk mengecambahkan benih. Media pemeraman yang digunakan adalah kain handuk atau 3 – 5 lapis kertas merang yang disemprot dengan larutan fungisida (Pentacur 722 AS, Dithane M45, Kudanil 75 WP dsb) dengan kosentrasi 3 gram / liter. Benih ditaburkan secara merata pada media dan diusahakan tidak menumpuk. Benih yang digunakan sebaiknya benih cabe hibrida (F1) yang telah diberi perlakuan pestisida dan belum kadaluwarsa. Media digulung atau dilipat dan disimpan dalam suhu kamar. Untuk menjaga kelembaban media peram, semprotkan air setiap pagi dan sore. Untuk mempercepat tumbuhnya benih, gulungan atau lipatan media yang berisi benih cabe dapat dimsukkan kantong plastik hitam, ditutup rapat dan dijemur matahari jam 09.00 – 11.00. Setelah 3 sampai 5 hari, benih yang baik akan mengeluarkan titik putih calon akar (radikula). 

  4. Dengan bantuan penjepit, benih yang telah mengeluarkan calon akar 1 – 2 mm siap di tanam pada media semai yang disiram terlebih dahulu. Sebaiknya pemindahan benih dari pemeraman tidak terlambat.

  5. Setelah benih dipesemaian, setiap pagi dan sore persemaian perlu disiram. Untuk mencegah gangguan cendawan, persemaian disemprot dengan beberapa jenis fungisida secara bergantian dengan konsentrasi 0,5 gram / liter. Untuk mencegah gangguan hama persemaian, disemprot dengan insektisida Marcis 25 EC atau Pentacron 500 EC dengan konsentrasi 0,5 cc / liter.

  6. Bibit tanaman siap dipindah kepertanaman setelah berdaun 3 -4 helai atau berumur sekitar 16 hari. 

  7. Persemaian juga dapat dilakukan dengan meletakkan benih secara langsung pada media semai tanpa diperam terlebih dahulu, namun biasanya pertumbuhan benih menjadi tidak seragam.

Pengolahan Tanah

  1. Lahan yang akan dipakai untuk tanaman cabe sebaiknya bekas tanaman padi, atau bukan bekas tanaman sebangsa terong-terongan (family Solanaceae). Lahan harus dibersihkan dari segala macam gulma dan akar bekas tanaman lama, agar pertumbuhan akar tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit.

  2. Lahan dibajak dan digaru dengan hewan ternak atau dengan bajak traktor. Pembajakan dan penggaruan bertujuan untuk menggemburkan, memperbaiki aerasi tanah dan untuk menghilangkan OPT yang bersembunyi di tanah.

  3. Setelah itu lahan dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 – 110 cm dengan ketinggian bedengan 50 – 60 cm dan lebar parit 50 – 60 cm. Panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan.

  4. Pengukuran pH tanah juga perlu dilakuan dengan alat pH meter atau dengan kertas lakmus. Untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,5, dilakukan pengapuran lahan menggunakan dolomint atau kapur gamping dengan dosis 500 kg/Ha. Misalnya dari pengukuran pH, diperoleh data pH tanah 5,5. Untuk memperoleh pH 6,5 berarti harus dilakukan pemberian kapur pertanian sebanyak 1000 kg/ha. Pengapuran diberikan pada saat pembajakan atau pada saat pembuatan bedengan bersamaan dengan pemberin pupuk orgnik (kompos atau pupuk kandang). Pupuk kandang yang diperlukan adalah 10 sampai 20 ton / Ha atau ½ sampai 1 zak untuk 10 meter panjang bedengan. Pupuk kandang yang baik adalah yang berasal dari kambing atau sapi yang sudah ”matang”.

  5. Untuk memperkaya unsur hara, perlu ditambahkan pula pupuk pabrik sebagai pupuk dasar, misalnya untuk setiap hektar diberikan kombinasi antara 400 kg Saprodap putih + 50 kg CSN pak Tani + 50 kg ZA.

  6. Setelah pupuk dasar diberikan, tahap berikutnya adalah pemasangan mulsa plastic hitam perak yang berguna untuk menekan perkembangbiakan hama dan penyakit, pertumbuhan gulma, mengurangi penguapan, mencegah erosi tanah, mempertahankan struktur, suhu dan kelembaban tanah serta dapat mencegah terjadinya pencucian pupuk. Pemasangan mulsa sebaiknya dilakukan disiang hari saat matahari panas terik, dilakukan dengan cara membentang dan menarik antara dua sisi dengan permukaan perak di bagian atas. Setiap ujung dan sisi mulsa dikancing dengan pasak.

Penanaman

  1. Jarak tanam yang digunakan sangat tergantung pada kesuburan lahan. Pada tanah yang subur, sebaiknya jarak tanamnya lebih jarang dibanding pada tanah yang kurang subur. Untuk tanah yang kesuburannya sedang dapat digunakan jarak tanam 50 – 60 cm jarak antar lubang dan 60 – 70 cm untuk jarak antar barisan dengan pola penanaman model segitiga atau zig-zag.

  2. Pembuatan lubang tanam sedalam 8 sampai 10 cm dilakukan bersamaan dengan pembuatan lubang pada mulsa yang berpedoman pada pola yang dipakai dan sesuai jarak tanam yang dianjurkan .

  3. Pembuatan lubang pada mulsa dapat juga menggunakan system pemanasan dengan menggunakan kaleng dengan diameter kurang lebih 8 – 10 cm, dengan sumber api arang. Lubang tanam dibuat dengan cara menugal tanah sedalam 8 – 10 cm.

  4. Bibit cabe dipersemaian yang telah berumur 15 – 17 hari atau telah memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah tanam pada lahan. Satu – tiga hari sebelum dipindah, bibit disemprot dengan fungisida dan insektisida, bertujuan untuk mencegah serangan penyakit jamur dan hama sesaat setelah pindah tanam.

  5. Seleksi dan pengelompokan bibit berdasarkan ukuran besar kecil dan kesehatannya. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pada saat cuaca tidak terlalu panas, dengan cara merobek kantong semai dan diusahakan media tidak pecah dan langsung dimasukkan pada lubang tanam. Kemudian lakukan pemasangan lanjaran atau ajir, yang dipasang di samping lubang tanam.

Pemeliharaan tanaman

  1. Penyulaman. Setelah tanaman berumur 7 – 14 hst , tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan normal atau mati perlu dilakukan penyulaman dengan bibit yang masih ada di persemaian.

  2. Penyiangan. Jika pada lubang tanam tumbuh gulma, maka perlu dilakukan penyiangan dengan cara mencabut . Pengendalian gulma perlu dilakukan pada gulma yang tumbuh di parit dengan menggunakan cangkul atau dengan herbisida. Pada saat aplikasi herbisida nozelnya perlu diberi sungkup agar semprotan herbisida tidak mengenai tanaman cabe.

  3. Pemangkasan. Pemangkasan tunas ketiak atau “pewiwilan” perlu dilakukan pada tunas yang tumbuh pada ketiak yang berada dibawah cabang utama dan bunga pertama yang muncul pada cabang utama. Pewiwilan ini dilakukan agar pertumbuhan vegetatif tanaman dapat optimal. Namun beberpa pengalaman tidak dilakukannya pewiwilan juga memberikan pertumbuhan tanaman dan produksi yang baik. Namun bentuk tanaman menjadi tidak simetris. 

  4. Pengikatan. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah, perlu dilakukan pengikatan mulai tanaman umur 10 – 15 hst. Pengikatan dilakukan dengan mengikatkan batang yang berada dibawah cabang utama dengan tali plastik pada lanjaran atau ajir. Pada saat tanaman berumur 30 – 40 hst, tanaman diatas cabang utama diikat dengan ajir, lalu pengikatan juga dilakukan pada saat pembesaran buah yaitu pada umur 50 -60 hst.

Pupuk susulan
Untuk memacu pertumbuhan tanaman, dianjurkan untuk melakukan pemupukan susulan.

  1. Pemupukan pertama dimulai pada umur 7 sampai 60 hst dengan selang waktu (interval) 7 - 10 hari. Pupuk yang digunakan untuk masing-masing tahapan umur adalah:Pemupukan susulan kedua dilakukan mulai tanaman umur 60 hari sampai petik terakhir dengan selang waktu 10 hari, untuk tiap hektar dengan pupuk 50 kg KNO3 putih + 50 kg ZA + 20 kg MKP. Pemupukan dilakukan dengan cara melubangi mulsa dan menugal pada sisi tanaman dengan jarak 15 cm atau dikocor. 
    Selain tanaman dikocor, dianjurkan juga disemprot dengan pupuk daun yang mengandung unsure NPK + unsure mikro, dengan kadar N rendah dan K tinggi. Penyemprotan pupuk daun dengan konsentrasi 2 – 5 gram / liter air mulai umur 7 sampai 30 hst dengan interval pemberian 7 – 15 hari.
    1. Umur 7 – 30 hari, tiap hektar dengan 50 kg Sendawa + 25 kg ZA.
    2. Umur 30 – 60 hari, tiap hektar dengan 20 kg Saprodap + 20 kg MKP + 50 kg KNO3 + 25 kg ZA.

Pengairan

  1. Pengairan dilakukan setiap 7 – 10 hari atau tergantung kondisi lahan dengan cara menggenangi atau mengisi saluran antar bedengan dengan air sampai sekitar 10 cm dibawah permukan lahan yang ditanami.

  2. Air irigasi yang dipakai untuk menggenangi lahan sebaiknya bersih, tidak tercemar limbah sayur busuk atau berasal dari lahan yang terserang hama dan penyakit terong-terongan. Air yang berasal dari sumber air tanah permukaan atau air dalam, atau dari tampungan air hujan dilahan kering baik untuk irigasi cabe. Kalau dapat dilakukan penggenangan, sebiknya hanya 1 – 2 jam lalu air dibuang pelan-pelan agar tidak terjadi pencucian zat makanan atau pupuk secara besar-besaran dari bedeng tanaman. 

  3. Lahan yang terlalu banyak air kurang baik karena kondisi kebun akan menjadi lembab yang menyebabkan tanaman rentan terhadap serangan jasad pengganggu tanaman.

back «

print
Copyright © 2014 Pasar Komoditi Nasional | Visited: 442436 times | webmail | Disclaimer
Last Updated: 27 August 2014
powered by Red Colibri